RADARTUBAN - WhatsApp mengungkap pada Jumat (31/1) bahwa aplikasi mereka telah menjadi sasaran serangan spyware oleh perusahaan mata-mata Israel, Paragon Solutions.
Serangan ini menargetkan sekitar 90 pengguna, termasuk jurnalis dan anggota masyarakat sipil, melalui file PDF berbahaya yang dikirim dalam obrolan grup.
Menanggapi insiden ini, WhatsApp yang dimiliki Meta telah memberi tahu pengguna yang terdampak dan menyediakan panduan keamanan.
Tak hanya itu, perusahaan juga telah mengirimkan surat perintah penghentian kepada Paragon Solutions. Hingga kini, Paragon belum memberikan tanggapan atau konfirmasi terkait tuduhan tersebut.
"Ini adalah contoh terbaru mengapa perusahaan spyware harus bertanggung jawab atas tindakan melanggar hukum mereka," kata juru bicara WhatsApp, seperti dikutip dari AFP.
Serangan ini disebut sebagai peretasan tanpa klik, yang berarti dokumen berbahaya itu dapat mengeksploitasi perangkat korban tanpa perlu ada interaksi dari pengguna.
Teknik ini dinilai sangat canggih dan sulit terdeteksi. Reuters melaporkan bahwa serangan ini menargetkan individu di berbagai negara, termasuk beberapa di Eropa.
Paragon Solutions adalah salah satu dari sejumlah perusahaan yang berkembang dalam beberapa tahun terakhir dengan menawarkan teknologi pengawasan canggih kepada klien pemerintah.
Kritik terhadap industri ini terus bermunculan, mengingat alat-alat seperti ini berpotensi disalahgunakan untuk membatasi kebebasan sipil dan melanggar hak asasi manusia.
Kasus ini mengingatkan pada insiden sebelumnya yang melibatkan NSO Group, pembuat spyware Pegasus.
Perusahaan asal Israel itu menghadapi berbagai tuntutan hukum setelah perangkat lunaknya dikaitkan dengan pengawasan terhadap jurnalis, aktivis, dan pejabat pemerintah di berbagai belahan dunia.
Pada 2021, WhatsApp bahkan memenangkan gugatan di AS terhadap NSO Group atas kasus serupa.
WhatsApp menegaskan bahwa mereka telah memblokir metode eksploitasi yang digunakan dalam serangan ini dan akan terus mengambil langkah hukum terhadap vendor spyware yang melanggar kebijakan mereka.
"Sejarah menunjukkan bahwa teknologi pengawasan rahasia membawa godaan untuk digunakan terhadap masyarakat sipil dan jurnalis yang tidak mungkin ditolak. Itu benar 50 tahun yang lalu dan itu benar hari ini," ujar John Scott-Railton, peneliti senior di Citizen Lab. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni