RADARTUBAN - Rencana besar untuk menggabungkan dua raksasa otomotif Jepang, Honda dan Nissan, yang awalnya diprediksi dapat menciptakan produsen mobil terbesar ketiga di dunia, kini tampaknya menemui jalan buntu.
Kabar terbaru menyebutkan bahwa kedua perusahaan tengah mempertimbangkan untuk menghentikan pembicaraan terkait merger.
Dilansir dari Reuters pada Rabu (5/2), surat kabar Asahi Shimbun melaporkan bahwa negosiasi antara Honda dan Nissan mengalami kebuntuan.
Dari pihak Honda, diskusi tersebut dinilai tidak menunjukkan kemajuan sesuai harapan.
Sebagai perusahaan dengan nilai pasar lima kali lebih besar dibandingkan Nissan, Honda mengajukan opsi agar Nissan menjadi anak perusahaannya jika penggabungan tetap ingin dilanjutkan. Namun, usulan tersebut mendapat penolakan keras dari Nissan.
Dewan direksi dari masing-masing perusahaan akan mengadakan pertemuan terpisah dalam waktu dekat untuk membahas kemungkinan pembatalan merger ini.
Sebelumnya, kedua perusahaan berencana menetapkan keputusan final pada akhir Januari, namun tenggat waktu itu kemudian diundur hingga pertengahan Februari.
Pembatalan merger ini diperkirakan akan lebih merugikan Nissan. Perusahaan tersebut masih belum sepenuhnya pulih dari krisis yang terjadi setelah penangkapan dan pemecatan mantan petinggi mereka, Carlos Ghosn, pada 2018.
Selain itu, Nissan juga menghadapi tantangan tambahan berupa tarif impor yang diberlakukan oleh Presiden AS, Donald Trump.
Tarif yang diterapkan terhadap Meksiko akan berdampak lebih besar bagi Nissan dibandingkan Honda, mengingat Nissan memiliki fasilitas produksi utama di negara tersebut.
Dan ketergantungannya pada produksi di Meksiko untuk pasar Amerika Serikat, dengan sekitar 27% penjualan di Amerika Serikat berasal dari Meksiko.
Pada awalnya, penggabungan antara Honda dan Nissan dipandang sebagai langkah strategis untuk memperkuat industri otomotif Jepang dalam menghadapi persaingan dari produsen kendaraan listrik asal China, seperti BYD.
Jika merger ini terealisasi, perusahaan gabungan Honda-Nissan diperkirakan akan menjadi grup otomotif terbesar ketiga di dunia berdasarkan penjualan kendaraan, berada di bawah Toyota dan Volkswagen.
Namun, dengan kebuntuan yang terjadi dalam negosiasi, masa depan kemitraan kedua perusahaan kini semakin tidak pasti. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni