RADARTUBAN - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengusulkan pemindahan permanen warga Gaza dalam ide kontroversial terbarunya, sambil menegaskan bahwa 'masalah Gaza tidak pernah selesai.'
Menurut laporan Politico dan Reuters pada Rabu (5/2), gagasan tersebut disampaikan pada hari yang sama ketika Trump mengejutkan publik dengan pernyataannya bahwa AS akan mengendalikan Gaza dalam jangka panjang dan mengembangkan wilayah itu secara ekonomi setelah penduduknya dipindahkan ke lokasi lain.
Usulan Trump ini bertentangan dengan kebijakan AS selama puluhan tahun terkait konflik Israel-Palestina.
Trump kembali menyerukan kepada negara-negara Arab untuk menerima relokasi warga Palestina dari Jalur Gaza saat bertemu Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, di Gedung Putih pada Selasa (4/2).
Namun, kali ini, Trump secara terang-terangan menyatakan dukungannya terhadap pemindahan permanen warga Gaza sebuah gagasan yang lebih ekstrem dibandingkan sebelumnya dan telah ditolak mentah-mentah oleh para pemimpin negara-negara Arab.
"Anda tidak bisa tinggal di Gaza sekarang, Anda memerlukan lokasi lainnya," kata Trump saat berbicara kepada wartawan.
"Permasalahan di Gaza tidak akan pernah selesai," sebutnya.
Trump dan para penasihat utamanya berpendapat bahwa jangka waktu 3-5 tahun untuk rekonstruksi Gaza yang hancur akibat perang, sebagaimana tercantum dalam perjanjian gencatan senjata sementara, tidak realistis untuk diterapkan.
Mesir, Yordania, dan negara-negara Arab lainnya menolak usulan Trump untuk merelokasi 2,3 juta warga Gaza selama proses pembangunan kembali wilayah tersebut pascaperang.
Meskipun demikian, sejumlah pejabat senior dalam pemerintahan Trump tetap menekankan bahwa pemindahan warga Palestina perlu dilakukan dengan alasan kemanusiaan.
"Bagi saya, tidak adil untuk menjelaskan kepada warga Palestina bahwa mereka mungkin akan kembali dalam lima tahun. Itu tidak masuk akal," ucap Utusan Khusus Trump untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, saat berbicara kepada wartawan.
Dalam pertemuannya dengan Netanyahu di Gedung Putih, Trump secara mengejutkan mengungkapkan rencana agar AS mengambil alih kendali atas Jalur Gaza dan mengembangkan wilayah tersebut secara ekonomi.
"AS akan mengambil alih Jalur Gaza, dan kami juga akan melakukan pekerjaan terhadapnya. Kami akan memilikinya dan bertanggung jawab untuk menjinakkan semua bom berbahaya yang belum meledak dan senjata lainnya di lokasi tersebut," cetus Trump.
"Saya melihat posisi kepemilikan jangka panjang dan saya melihat hal itu membawa stabilitas besar di kawasan Timur Tengah," kata Trump, yang menyebut dirinya telah membahas hal ini dengan para pemimpin regional dan mereka mendukung gagasan itu. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni