Serangan tersebut terjadi di dusun Novominskaya, Negara Bagian Krasnodar.
Gubernur Krasnodar, Veniamin Kondratyev, mengungkapkan bahwa ledakan terjadi di kilang minyak setelah militer Rusia berhasil menembak jatuh drone Ukraina. Puing-puing drone yang jatuh memicu kebakaran di kilang tersebut.
"Kebakaran telah terjadi dengan 55 petugas pemadam kebakaran dikirim ke tempat kejadian. Menurut informasi awal, tidak ada yang terluka," kata Kondratyev,
Dia menambahkan bahwa depot tersebut berisi 'beberapa sisa produk minyak bumi yang tidak signifikan'
Secara terpisah, Kementerian Pertahanan Rusia melaporkan bahwa dua pesawat nirawak Ukraina menghantam wilayah Kursk dan dua lainnya menyerang Belgorod, dua daerah yang berbatasan langsung dengan Ukraina.
Dalam beberapa bulan terakhir, Kyiv semakin meningkatkan serangan udara terhadap instalasi energi dan fasilitas militer Rusia.
Ukraina menyebut serangan ini sebagai respons yang "tepat" terhadap pemboman berkelanjutan Moskow terhadap jaringan energi dan kota-kotanya.
Rusia sendiri melancarkan serangan besar-besaran ke Ukraina Timur atau Donbass pada 24 Februari 2024.
Moskow mengklaim langkah ini bertujuan untuk melindungi warga etnis Rusia di wilayah tersebut dari diskriminasi pemerintah Kyiv, serta untuk mencegah Ukraina bergabung dengan aliansi pertahanan Barat, NATO.
Konflik ini pun menarik keterlibatan negara-negara Barat seperti Amerika Serikat, Inggris, dan sekutunya di Eropa.
Mereka memberikan bantuan militer besar kepada Kyiv untuk melawan pasukan Rusia, sekaligus menjatuhkan ribuan sanksi ekonomi terhadap Moskow guna melemahkan pendanaannya untuk perang.
Di medan pertempuran, situasi terus berkembang. Militer Rusia baru-baru ini dilaporkan berhasil merebut kota strategis Pokrovsk, yang memiliki peran penting dalam logistik Ukraina.
Pasukan Ukraina di kota tersebut menyebut bahwa Rusia mengubah taktik dengan menyerang dari sisi-sisi mereka, alih-alih melakukan serangan frontal, guna membentuk gerakan menjepit di sekitar kota.
Sementara itu, Ukraina menghadapi tantangan lain berupa kurangnya pengalaman di antara rekrutan baru. Hal ini semakin menekan brigade yang lebih terlatih, yang kini harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan garis pertahanan.
"Rekrutan baru terus-menerus memperluas garis depan karena mereka meninggalkan posisi mereka, mereka tidak menahannya, mereka tidak mengendalikannya, mereka tidak memantaunya. Kami melakukan hampir semua pekerjaan untuk mereka," kata Wakil Komandan Batalion Da Vinci Wolves, yang dikenal dengan tanda panggilan Afer.
"Karena itu, dengan awalnya memiliki area tanggung jawab sepanjang 2 kilometer, Anda berakhir dengan 8-9 kilometer per batalion, yang sangat banyak dan kami tidak memiliki cukup sumber daya", sambungnya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni