Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Harga Minyak Mentah Menguat, Investor Hiraukan Ancaman Tarif Trump

Bihan Mokodompit • Selasa, 11 Februari 2025 | 19:58 WIB
Harga minyak mentah menguat
Harga minyak mentah menguat

RADARTUBAN - Harga minyak mentah mengalami kenaikan tipis pada perdagangan Senin setelah sebelumnya tertekan akibat kekhawatiran terkait perang dagang global.

Investor tampaknya tidak terlalu menghiraukan pernyataan terbaru Presiden AS Donald Trump terkait tarif impor baja dan aluminium.

 

Berdasarkan laporan CNBC, Selasa (11/2/2025), harga minyak mentah Brent naik USD 1,21 atau 1,62% menjadi USD 75,87 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga mengalami kenaikan sebesar 1,86% atau USD 1,32, mencapai USD 72,32 per barel.

Pekan lalu, pasar minyak mencatat penurunan mingguan ketiga berturut-turut akibat kekhawatiran yang terus berlanjut mengenai dampak perang dagang terhadap perekonomian global.

"Ketidakpastian mengenai tarif menjadi faktor utama dalam situasi ini. Hal ini memengaruhi selera risiko secara keseluruhan dan berdampak pada harga minyak," ujar Harry Tchilinguirian, Kepala Analis Onyx Capital.

 

Trump mengumumkan bahwa pemerintahannya akan menerapkan tarif 25% pada impor baja dan aluminium ke AS pada hari Senin.

Langkah ini dianggap sebagai eskalasi lebih lanjut dari kebijakan perdagangannya yang kontroversial.

Minggu sebelumnya, dia juga mengumumkan tarif serupa untuk Kanada, Meksiko, dan Tiongkok. Namun, tarif terhadap negara-negara tetangga tersebut ditangguhkan sehari setelah pengumuman.

Analis IG Sydney, Tony Sycamore, mengungkapkan bahwa kekhawatiran mengenai tarif ini dapat berdampak negatif pada pertumbuhan ekonomi global serta permintaan energi.

Namun, melihat adanya penundaan dalam penerapan kebijakan tarif pekan lalu, pelaku pasar energi tampaknya tidak terlalu khawatir mengenai ancaman terbaru tersebut.

"Pasar menyadari bahwa perdebatan mengenai tarif ini kemungkinan masih akan berlanjut dalam beberapa minggu atau bulan mendatang," katanya.

Dia juga menambahkan bahwa peluang masih terbuka bagi tarif tersebut untuk dikurangi atau bahkan ditingkatkan dalam waktu dekat.

“Mungkin investor menyadari bahwa bereaksi negatif terhadap setiap pemberitaan soal tarif bukanlah strategi terbaik,” tuturnya.

Sementara itu, kebijakan perdagangan AS juga memengaruhi pasar energi secara global.

Tarif balasan dari China terhadap beberapa produk ekspor AS mulai berlaku pada hari Senin, di tengah ketidakpastian terkait negosiasi antara Beijing dan Washington.

Para pedagang minyak dan gas kini mencermati bagaimana kebijakan ini akan memengaruhi permintaan China terhadap minyak mentah dan gas alam cair asal AS.

Trump juga menyatakan bahwa AS sedang mencapai kemajuan dalam upaya mengakhiri perang di Ukraina dengan Rusia.

Namun, dia menolak memberikan rincian terkait komunikasi yang dilakukan dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin.

Sanksi yang diberlakukan terhadap sektor minyak Rusia sejak 10 Januari telah menghambat pasokan Moskow ke pasar utama seperti China dan India.

Selain itu, Washington meningkatkan tekanan terhadap Iran pekan lalu, dengan Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi baru terhadap beberapa individu dan kapal tanker yang terlibat dalam pengiriman jutaan barel minyak Iran ke China setiap tahunnya.

Menurut analis dari Citi, kebijakan sanksi terhadap Iran serta kegagalan mencapai kesepakatan nuklir berpotensi mendorong kenaikan harga minyak, meskipun Trump sebenarnya bertujuan untuk menekan harga energi.

“Kami memperkirakan harga minyak akan bergerak stagnan atau mengalami penurunan dalam sebulan ke depan, dengan tekanan fundamental yang semakin meningkat terhadap minyak mentah sepanjang tahun ini,” ungkap mereka dalam sebuah catatan riset.

Analis Citi memproyeksikan bahwa harga rata-rata minyak mentah Brent akan berada di kisaran USD 60 hingga USD 65 per barel pada paruh kedua 2025, karena kebijakan Trump yang berupaya menekan harga energi diperkirakan akan memberikan dampak negatif bagi pasar minyak global. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#impor baja dan aluminiun #investor #ancaman #perang dagang global #perdagangan #harga minyak mentah #donald trump