RADARTUBAN - Para astronom baru saja menemukan keberadaan lubang hitam tersembunyi di dalam galaksi katai Awan Magellan Besar. Galaksi ini merupakan satelit alami Bima Sakti yang semakin mendekati jalur tabrakan dengan galaksi kita.
Di pusat Awan Magellan Besar, para ilmuwan mengidentifikasi tanda-tanda keberadaan objek tak kasatmata yang massanya sekitar 600.000 kali lebih besar dari Matahari.
Mengingat bahwa Awan Magellan Besar suatu saat akan bertabrakan dengan Bima Sakti, lubang hitam ini kemungkinan besar akan bergabung ke dalamnya.
Melansir Science Alert pada Rabu (19/2), Awan Magellan Besar saat ini mengorbit Bima Sakti dengan jarak sekitar 160.000 tahun cahaya.
Meskipun tabrakan ini diperkirakan baru akan terjadi dalam 2 miliar tahun mendatang, lubang hitam tersebut berpotensi bergerak menuju pusat Bima Sakti dan pada akhirnya menyatu dengan Sagittarius A—lubang hitam supermasif yang berada di inti galaksi kita.
Menurut para astronom, peristiwa ini menggambarkan bagaimana lubang hitam dapat berkembang dari ukuran kecil hingga menjadi sangat masif melalui penggabungan bertahap
Lubang hitam di Awan Magellan Besar ini memiliki karakteristik unik karena massanya tergolong langka. Dia diketahui mengorbit sebuah bintang biru besar dengan massa sekitar 25 kali lipat dari Matahari.
Dua objek ini membentuk sistem biner yang dinamai VFTS 243. Para ilmuwan mencatat bahwa meskipun miliaran lubang hitam tidak aktif diyakini tersebar di hampir setiap galaksi, ini merupakan salah satu deteksi paling jelas dari lubang hitam tidak aktif di luar Bima Sakti.
Keunikan lain dari lubang hitam ini terletak pada cara pembentukannya. Biasanya, lubang hitam lahir ketika bintang masif kehabisan bahan bakar fusi nuklir, yang kemudian memicu keruntuhan gravitasi pada intinya. Proses ini umumnya disertai dengan ledakan supernova—sebuah fenomena kosmik besar yang menandai akhir kehidupan bintang.
Namun, kasus VFTS 243 tampaknya berbeda. Para ilmuwan tidak menemukan jejak supernova yang menyertai pembentukan lubang hitam ini.
Hal ini menimbulkan spekulasi bahwa lubang hitam tersebut mungkin terbentuk melalui mekanisme yang lebih tenang, di mana bintang langsung runtuh tanpa ledakan dahsyat.
Melansir Space pada Rabu (19/2), proses identifikasi VFTS 243 memerlukan penelitian yang panjang. Para ilmuwan menganalisis data selama enam tahun yang dikumpulkan oleh Very Large Telescope (VLT) di Gurun Atacama, Chili Utara.
Dalam penelitian ini, mereka mempelajari sekitar 1.000 bintang masif di area Nebula Tarantula di Awan Magellan Besar. Tujuannya adalah mencari apakah ada bintang yang memiliki pendamping berupa lubang hitam tidak aktif.
Penemuan ini membuka wawasan baru tentang evolusi lubang hitam dan interaksi galaksi.
Jika skenario yang diprediksi benar, maka di masa depan, Bima Sakti akan mengalami perubahan besar saat lubang hitam dari Awan Magellan Besar menyatu dengan Sagittarius A dan memperbesar kekuatannya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni