Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Hari Perempuan Internasional 2025: PBB Serukan Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan

Bihan Mokodompit • Sabtu, 8 Maret 2025 | 21:35 WIB
Hari Perempuan Internasional 2025
Hari Perempuan Internasional 2025

RADARTUBAN - Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day/IWD) 2025 kembali menjadi momentum penting untuk menyoroti isu kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, menegaskan bahwa membuka akses yang setara bagi perempuan dan anak perempuan bukan hanya menguntungkan mereka, tetapi juga membawa manfaat bagi seluruh masyarakat.

“Masyarakat yang setara lebih makmur dan damai – dan merupakan fondasi dari pembangunan berkelanjutan,” ujar Guterres dalam pernyataan resminya.

 

Guterres mengakui pencapaian yang telah diraih sejak Konferensi Perempuan Beijing tahun 1995, sebuah peristiwa bersejarah yang mengubah lanskap hak-hak perempuan dan menegaskan bahwa hak-hak tersebut adalah bagian dari hak asasi manusia.

Selama tiga dekade terakhir, perempuan dan anak perempuan terus berjuang untuk menghapus batasan, menantang stereotip, serta menuntut hak dan peran yang seharusnya mereka miliki.

Namun, dia juga mengingatkan bahwa tantangan besar masih ada. Kekerasan, diskriminasi, dan ketidaksetaraan ekonomi tetap menjadi hambatan serius.

Bahkan, ancaman baru seperti algoritma digital yang bias turut memperparah ketidakadilan gender dengan menciptakan ruang online yang rentan terhadap pelecehan dan penyalahgunaan.

“Alih-alih mengarusutamakan hak-hak yang setara, kita malah melihat pengarusutamaan misogini,” tegasnya.

 

Guterres menyerukan tindakan nyata untuk mengatasi ketidakadilan ini. Dia menekankan perlunya pendanaan yang memadai untuk investasi dalam kesetaraan gender, serta kebijakan yang mendorong kesempatan kerja setara, mengurangi kesenjangan upah, dan memperbaiki sistem pekerjaan perawatan yang sering tidak dihargai.

Selain itu, dia menekankan pentingnya penguatan dan penegakan hukum untuk menghapus segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan.

Partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan juga menjadi aspek penting, terutama dalam bidang perdamaian dan pembangunan global.

Dia juga mendorong agar perempuan dan anak perempuan mendapatkan akses lebih besar ke bidang sains, teknologi, rekayasa, dan matematika (STEM), yang selama ini didominasi oleh laki-laki.

“Ketika perempuan dan anak perempuan dapat bangkit, kita semua akan berkembang,” ujarnya dengan penuh keyakinan.

Hari Perempuan Internasional tahun ini menjadi lebih istimewa karena bertepatan dengan 30 tahun Deklarasi dan Platform Aksi Beijing.

PBB mengusung tema “Untuk SEMUA perempuan dan anak perempuan: Hak. Kesetaraan. Pemberdayaan”, yang menyoroti perlunya tindakan nyata untuk mewujudkan keadilan gender di seluruh dunia.

Peringatan ini tidak sekadar seremonial, tetapi juga momentum untuk menyerukan langkah konkret dalam mengatasi ketidaksetaraan.

Mulai dari melawan kekerasan dan diskriminasi, membongkar sistem patriarki, hingga memastikan bahwa perempuan dari semua latar belakang mendapatkan hak dan kesempatan yang sama.

Di samping itu, suara perempuan muda yang sering terpinggirkan juga harus lebih diperhatikan. Inklusivitas dan pemberdayaan menjadi kunci utama dalam memastikan bahwa tidak ada perempuan atau anak perempuan yang tertinggal.

 

Hari Perempuan Internasional berakar dari perjuangan panjang kaum perempuan sejak awal abad ke-20. Mulai dari tuntutan hak pilih, upah yang layak, hingga kondisi kerja yang adil.

Perayaan pertama kali diadakan di Amerika Serikat pada tahun 1909 sebelum kemudian diadopsi secara global. PBB secara resmi menetapkan peringatan ini sejak tahun 1975.

Tanggal 8 Maret dipilih sebagai simbol perjuangan perempuan, yang terinspirasi oleh aksi mogok kerja perempuan di Rusia pada tahun 1917.

Sejak saat itu, IWD menjadi momen penting untuk terus memperjuangkan kesetaraan dan hak perempuan di seluruh dunia.

 

Peringatan IWD 2025 bukan sekadar hari peringatan, tetapi juga sebuah gerakan global yang terus mendorong kesadaran dan aksi nyata dalam mencapai kesetaraan gender.

Berbagai acara, seminar, dan kampanye direncanakan untuk meningkatkan kesadaran serta memfasilitasi perubahan sosial.

Namun, tantangan besar masih menghadang. Jika tidak ada langkah progresif yang diambil, proyeksi menunjukkan bahwa kesetaraan gender baru bisa tercapai pada tahun 2158.

Oleh karena itu, keterlibatan semua pihak, organisasi non-pemerintah, maupun masyarakat umum dibutuhkan untuk mempercepat perubahan.

Langkah-langkah seperti peningkatan akses pendidikan, penciptaan lapangan kerja yang adil, serta perlindungan hukum yang lebih kuat harus menjadi prioritas global.

Dengan kerja sama dan tekad yang kuat, dunia bisa bergerak lebih cepat menuju keadilan dan kesetaraan gender yang sejati.

Mari bersama-sama berkontribusi dalam menciptakan dunia yang lebih inklusif dan adil bagi perempuan dan anak perempuan di mana pun mereka berada. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#international women's day #pbb #hari perempuan internasional #hak asasi manusia #kesetaraan gender #perserikatan bangsa-bangsa