Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Peneliti Temukan Objek Antariksa Mirip Planet dan Miliki Atmosfer Seperti Kue Lapis

Bihan Mokodompit • Kamis, 27 Maret 2025 | 20:35 WIB
Penemuan astronomi luar biasa
Penemuan astronomi luar biasa

RADARTUBAN - Para ilmuwan baru saja mencapai pencapaian luar biasa dalam studi astronomi.

Memetakan kondisi atmosfer dari SIMP 0136+0933, sebuah objek antariksa yang dikategorikan sebagai planet liar karena tidak mengorbit bintang mana pun.

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST).

 

Mengutip laporan Live Science via pada Rabu (26/3), penelitian yang diterbitkan di jurnal The Astrophysical Journal Letters pada 3 Maret 2025 mengungkap bahwa SIMP 0136+0933 memiliki atmosfer yang sangat unik dan berlapis-lapis.

Para ilmuwan menemukan keberadaan awan logam seperti besi, mineral langka, serta senyawa karbon yang kompleks.

Bahkan, aurora di ketinggian tinggi juga terdeteksi, menjadikan objek ini semakin menarik untuk dipelajari.

Untuk mengungkap lebih dalam tentang atmosfer SIMP 0136+0933, para peneliti menggunakan dua instrumen utama JWST, yaitu Near-Infrared Spectrograph (NIRSpec) dan Mid-Infrared Instrument (MIRI).

Dengan bantuan teknologi ini, lebih dari 6.000 set data berhasil dikumpulkan dalam waktu hampir enam jam pada 23 Juli 2023.

Data yang diambil mencakup berbagai panjang gelombang inframerah pendek dan menengah, memungkinkan para astronom untuk menyusun kurva cahaya (light curves), yaitu grafik yang menunjukkan perubahan kecerahan inframerah dari waktu ke waktu.

 

Salah satu hal menarik dari penelitian ini adalah pola yang tidak seragam dalam perubahan kecerahan SIMP 0136+0933.

Beberapa panjang gelombang menunjukkan peningkatan cahaya, sebagian lainnya mengalami penurunan, sementara sebagian tetap stabil.

Setelah dianalisis, para ilmuwan menemukan bahwa pola ini dapat dikelompokkan ke dalam tiga kluster utama, yang masing-masing berkaitan dengan lapisan atmosfer yang berbeda.

• Lapisan pertama berada di bagian bawah atmosfer dan dipenuhi oleh awan besi.

• Lapisan kedua mengandung awan forsterit, yaitu mineral silikat dengan kandungan magnesium yang signifikan.

• Lapisan ketiga tampaknya tidak berasal dari awan, melainkan dari kantong panas (hotspots) di atmosfer bagian atas. Kemungkinan besar, fenomena ini dipicu oleh aurora radio, yang menyerupai aurora di Bumi tetapi terdeteksi dalam panjang gelombang radio.

Meskipun sebagian besar fenomena atmosfer ini dapat dijelaskan melalui model awan dan aurora, ada satu aspek yang masih menjadi teka-teki bagi para ilmuwan.

Bentuk kurva cahaya pada kluster pertama menunjukkan variasi yang tidak biasa.

Salah satu dugaan yang muncul adalah adanya senyawa karbon seperti karbon monoksida, yang dapat menyerap radiasi pada panjang gelombang tertentu dalam periode waktu tertentu.

 

SIMP 0136+0933 sebelumnya pernah diamati oleh Teleskop Luar Angkasa Spitzer milik NASA.

Namun, hasil dari pengamatan sebelumnya menunjukkan bahwa atmosfernya sangat tidak stabil dan mengalami fluktuasi dalam spektrum inframerah.

Dengan teknologi JWST yang lebih canggih, para ilmuwan kini mulai memahami penyebab dari ketidakstabilan tersebut.

SIMP 0136+0933 bukanlah planet dalam pengertian konvensional karena tidak mengorbit bintang seperti Bumi mengitari Matahari.

Namun, objek ini juga tidak cukup besar untuk dikategorikan sebagai bintang gagal atau brown dwarf.

Terletak di Nebula Carina, sekitar 20 tahun cahaya dari Bumi, SIMP 0136+0933 menjadi salah satu objek bermassa planet bebas paling terang di langit belahan utara.

Karena tidak berada dekat dengan bintang terang, objek ini dapat diamati secara langsung tanpa gangguan cahaya bintang lain.

Fakta menarik lainnya adalah rotasi SIMP 0136+0933 yang sangat cepat.

Dalam satu kali rotasi penuh pada porosnya, objek ini hanya membutuhkan 2,4 jam, jauh lebih singkat dibandingkan rotasi Bumi yang berlangsung selama 24 jam.

Penemuan atmosfer yang kompleks pada SIMP 0136+0933 semakin memperluas wawasan ilmuwan tentang keberagaman atmosfer di luar Tata Surya.

Objek ini tidak hanya dianggap sebagai fenomena langka, tetapi juga sebagai laboratorium alami untuk memahami proses atmosfer yang belum pernah teramati sebelumnya.

Sebagai langkah selanjutnya, para peneliti berencana melakukan studi lanjutan menggunakan Teleskop Luar Angkasa Nancy Grace Roman, yang dijadwalkan meluncur pada 2027.

Dengan penelitian lebih lanjut, harapannya adalah semakin banyak misteri tentang atmosfer objek ini yang dapat terungkap. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#peneliti #planet #atmosfer #astronomi #luar angkasa