RADARTUBAN - Laporan Amnesty International terbaru yang dirilis Selasa (8/4), menunjukkan lonjakan eksekusi mati di Timur Tengah mendorong angka global ke level tertinggi dalam hampir satu dekade.
Organisasi ini memperingatkan, hukuman mati semakin disalahgunakan untuk menekan kebebasan politik dan menargetkan kelompok rentan.
Sepanjang 2024, Amnesty mencatat 1.153 eksekusi di seluruh dunia, meningkat hampir 30 persen dibanding tahun sebelumnya.
Angka tersebut tak termasuk China, yang diduga tetap menjadi eksekutor terbesar dunia namun merahasiakan data hukuman matinya.
Sementara Iran, Arab Saudi, dan Irak menyumbang lebih dari 90 persen eksekusi yang tercatat.
Iran sendiri melaporkan 853 eksekusi, lonjakan tajam yang sebagian besar berkaitan dengan pelanggaran narkoba, dengan minoritas Baluch menjadi korban yang paling rentan.
"Negara-negara ini memperlakukan hukuman mati sebagai senjata untuk mempertahankan kekuasaan, membungkam perbedaan pendapat, dan menakut-nakuti komunitas rentan," ujar Agnès Callamard, Sekjen Amnesty International.
Selain kasus narkoba, Amnesty mengungkapkan bahwa puluhan orang di Iran dieksekusi karena terlibat dalam protes antipemerintah.
Begitupun Arab Saudi, yang melanjutkan tren eksekusi untuk kejahatan yang dikategorikan luas seperti "kejahatan terhadap negara", yang sering kali ditujukan kepada aktivis dan minoritas.
Di sisi lain, laporan ini juga membawa sedikit harapan. Zimbabwe resmi menghapus hukuman mati untuk sebagian besar kasus, mengikuti tren global menuju abolisi penuh.
Dengan lonjakan tersebut, Amnesty mendesak semua negara untuk mempercepat langkah menghapus hukuman mati.
"Setiap eksekusi tidak hanya menghancurkan satu nyawa, tetapi juga mencoreng martabat kemanusiaan kita bersama," kata Callamard. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama