RADARTUBAN - Skandal tiket Colosseum bikin geger, membuat Otoritas Persaingan Usaha Italia (AGCM) resmi menjatuhkan denda total €20 juta atau sekitar Rp 374 miliar kepada enam agen, karena mempersulit wisatawan membeli tiket masuk standar secara daring.
Sebuah perusahaan, Cooperative Culture Society, kena denda terbesar hingga €7 juta atau setara Rp 131 miliar, setelah terbukti mengelola praktik ini sejak 1997 hingga 2024.
Kasusnya pun langsung menyita perhatian karena Colosseum tercatat sebagai monumen paling banyak dikunjungi di Italia. Pada tahun 2023 saja terdapat lebih dari 12,3 juta wisatawan.
AGCM mengungkapkan bahwa agen-agen tersebut memaksa pengunjung membeli tiket dengan harga lebih tinggi, dengan menawarkan layanan tambahan seperti tur berpemandu atau akses prioritas.
Padahal, tiket standar resmi Colosseum sebenarnya dibanderol hanya €18 atau sekitar Rp 337 ribu untuk orang dewasa.
Tidak hanya itu, enam operator tur dari Italia, Jerman, Belanda, dan Irlandia turut didenda karena menggunakan bot dan sistem otomatis untuk memborong tiket dalam jumlah besar.
Alhasil, wisatawan individu kesulitan mendapatkan tiket resmi dan terpaksa membeli paket yang jauh lebih mahal.
Pihak berwenang Italia tidak merinci harga akhir dari tiket-tiket tersebut. Namun, Taman Arkeologi Colosseum, yang dikelola Kementerian Kebudayaan Italia, menetapkan harga €18 untuk akses ke lantai utama warisan dunia UNESCO ini dengan durasi kunjungan sekitar 20 menit.
Direktur Colosseum menolak memberikan komentar terkait hukuman tersebut.
Sementara itu, fenomena ini mencuat di tengah meningkatnya kekhawatiran global terhadap pariwisata berlebih, yang mengancam kelestarian budaya dan lingkungan.
Sejak pandemi Covid-19 mereda, banyak kota-kota wisata mengalami lonjakan pengunjung yang bahkan melampaui angka tahun 2019.
Padahal, lonjakan wisatawan berisiko mengganggu aktivitas warga lokal, merusak ekosistem, hingga memperburuk polusi akibat transportasi.
UNESCO juga memperingatkan ancaman kerusakan terhadap situs-situs bersejarah di seluruh dunia, termasuk Colosseum.
Selain itu, Fodor merilis "Daftar Larangan Perjalanan 2025" yang menyarankan wisatawan mempertimbangkan kembali kunjungan ke destinasi padat seperti Bali, Barcelona, dan Koh Samui, Thailand. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni