RADARTUBAN - Harga telur termahal di dunia menjadi sorotan utama dalam laporan mingguan The World Ranking per Minggu (20/4).
Data tersebut menampilkan perbedaan mencolok harga telur per lusin antarnegara, dengan Selandia Baru berada di urutan pertama sebagai negara dengan harga telur paling tinggi secara global.
Selandia Baru mencatatkan harga telur per lusin sebesar Rp108.160, menjadikannya yang tertinggi di dunia.
Posisi ini dipengaruhi oleh tingginya biaya produksi telur, serta regulasi ketat mengenai kesejahteraan hewan.
Di negara ini, konsumen juga cenderung memilih telur berkualitas premium meski dengan harga lebih tinggi.
Swiss menempati urutan kedua dengan harga telur per lusin mencapai Rp94.080, disusul Uruguay dengan Rp86.720.
Kedua negara ini memiliki sistem produksi telur yang menerapkan standar ketat, mulai dari jenis pakan ayam hingga sistem kandang bebas (free-range) yang meningkatkan biaya operasional.
Di Norwegia dan Islandia, harga telur per lusin tercatat Rp86.720 dan Rp86.400.
Konsumen di kawasan Skandinavia lebih menyukai telur dengan sertifikasi kesejahteraan hewan dan hasil ternak organik, meskipun harganya lebih tinggi. Pilihan ini turut memengaruhi harga telur global.
Khusus di Inggris, telur merek Clarence Court menjadi bukti nyata tren konsumsi telur premium. Telur tersebut dijual £3,20 per 6 butir atau sekitar Rp10.240 per butir.
Ayam petelur Clarence Court diberi pakan khusus agar menghasilkan kuning telur berwarna oranye cerah, menambah daya tarik bagi konsumen kelas atas.
Beberapa faktor utama yang mendorong kenaikan harga telur global antara lain:
• Wabah flu burung di Amerika Serikat menyebabkan lebih dari 36 juta ayam dimusnahkan pada 2024, mendorong harga telur hingga USD 4,07 per lusin atau Rp65.120.
• Musim liburan dan permintaan tinggi, terutama pada akhir tahun saat tradisi memanggang meningkat.
• Kenaikan biaya produksi, seperti harga pakan, energi, dan tenaga kerja.
Sementara itu, beberapa negara mencatat harga telur yang jauh lebih murah. Zambia memiliki harga telur per lusin sekitar Rp19.200, Rusia Rp19.680, dan Bangladesh Rp20.160.
Perbedaan ini mencerminkan bagaimana kebijakan subsidi dan efisiensi rantai pasok sangat memengaruhi harga pasar.
Di Amerika Serikat, mahalnya harga telur membuat sebagian warga nekat membeli telur dari Meksiko, meskipun tindakan tersebut dapat dikenai denda hingga Rp4,8 juta karena melanggar regulasi impor.
Kasus ini memperlihatkan tekanan yang dihadapi konsumen akibat tingginya harga telur per lusin di pasar domestik.
Fenomena perbedaan harga telur antarnegara menunjukkan kompleksitas dalam sistem pangan global. Mulai dari faktor lokal seperti kebijakan pemerintah, biaya logistik, hingga permintaan konsumen terhadap kualitas, semua turut memengaruhi harga di pasar.
Tak bisa dimungkiri, harga telur termahal di dunia mencerminkan bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal preferensi, regulasi, dan tantangan dalam produksi pangan yang berkelanjutan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni