Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Rekaman Pertama Cumi-Cumi Kolosal Muda di Habitat Alaminya, Ini Fakta Mengejutkannya!

Bihan Mokodompit • Rabu, 23 April 2025 | 02:05 WIB
Ilustrasi cumi-cumi
Ilustrasi cumi-cumi

RADARTUBAN - Penemuan rekaman pertama cumi-cumi kolosal muda di habitat alaminya menjadi sorotan ilmiah global.

Cumi-cumi kolosal muda yang direkam ini tampak berenang perlahan di kedalaman Samudra Atlantik Selatan, tepatnya di perairan dekat Kepulauan Sandwich Selatan, pada kedalaman 600 meter.

Temuan ini menjadi titik terang baru dalam penelitian tentang invertebrata terbesar di planet ini.

 

Rekaman langka ini berhasil diambil oleh kendaraan kendali jarak jauh (ROV) bernama SuBastian, yang dioperasikan dari kapal riset Falkor milik Schmidt Ocean Institute.

Video tersebut diambil pada 9 Maret, memperlihatkan seekor cumi-cumi kolosal muda transparan berukuran sekitar 30 sentimeter tengah melayang di kegelapan laut dalam.

Penemuan ini menandai momen penting dalam sejarah kelautan, karena menjadi pengamatan langsung pertama terhadap cumi-cumi kolosal muda di habitat aslinya.

 

Kat Bolstad, ahli cumi-cumi dari Auckland University of Technology, menyatakan bahwa penemuan ini sangat menggembirakan.

Bolstad turut memverifikasi rekaman secara independen, sesuai standar ilmiah internasional.

"Ini sangat menggembirakan, rekaman pertama dari cumi-cumi kolosal muda di habitat aslinya, dan membuat kita merasa rendah hati menyadari bahwa makhluk ini bahkan tidak tahu bahwa manusia itu ada," ujarnya.

 

Cumi-cumi kolosal (Mesonychoteuthis hamiltoni) dikenal sebagai invertebrata terbesar di Bumi.

Hewan ini dapat tumbuh hingga sepanjang 14 meter dan memiliki berat mencapai 500 kilogram.

Bahkan, matanya berdiameter 27 sentimeter, menjadikannya mata terbesar di antara semua hewan yang diketahui.

Berbeda dengan cumi-cumi raksasa (Architeuthis dux), cumi-cumi kolosal hidup di perairan yang lebih dalam dan dingin, terutama di wilayah Antarktika.

Selama satu abad terakhir, cumi-cumi kolosal lebih sering diketahui melalui sisa-sisa tubuhnya di perut paus atau burung laut.

Pertama kali diidentifikasi pada musim dingin 1924–1925, spesies ini sangat sulit diteliti.

Hingga 2015, hanya 12 spesimen utuh yang pernah ditemukan, sebagian besar dalam kondisi muda.

Cumi-cumi kolosal muda biasanya berada di kedalaman sekitar 500 meter, sementara remaja dan dewasa hidup di kedalaman lebih ekstrem.

Selain cumi-cumi kolosal muda, ekspedisi yang sama juga berhasil merekam spesies langka lainnya, yaitu cumi-cumi kaca glasial (Galiteuthis glacialis).

Ini menambah daftar panjang spesies laut dalam yang selama ini luput dari pengamatan manusia.

“Penemuan dua jenis cumi-cumi dalam dua ekspedisi berturut-turut sungguh luar biasa, dan menunjukkan betapa sedikitnya yang telah kita lihat dari penghuni megah Samudra Selatan ini,” ungkap Jyotika Virmani, Direktur Eksekutif Schmidt Ocean Institute.

“Momen-momen tak terlupakan ini terus mengingatkan kita bahwa lautan masih penuh dengan misteri yang menunggu untuk dipecahkan,” tambahnya.

 

Eksplorasi makhluk seperti cumi-cumi kolosal muda membuka wawasan baru mengenai ekosistem laut dalam yang belum banyak terungkap.

Dengan teknologi seperti ROV SuBastian, ilmuwan kini memiliki akses lebih baik untuk memahami kehidupan laut terdalam. Informasi ini penting untuk konservasi dan pelestarian biodiversitas laut global. (*)

 

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#cumi kolosal muda #Atlantik Selatan #invertebrata #rekaman