RADARTUBAN — Proses pemilihan paus baru resmi dijadwalkan dimulai pada Rabu (7/5).
Sebagaimana yang dilaporkan KBRI Takhta Suci, kesepakatan pemilihan paus baru dicapai dalam Kongegrasi Umum kelima yang digelar pada Senin (28/4) pagi, diikuti oleh sekitar 180 dari 252 kardinal.
Dari seluruh kardinal yang hadir, lebih dari 100 merupakan kardinal elektor. Salah satunya adalah Ignatius Kardinal Suharyo dari Indonesia.
Para kardinal saat ini telah berkumpul di Roma untuk mempersiapkan konklaf yang akan berlangsung di Kapel Sistina, Vatikan.
Sejak 1492, Kapel Sistina menjadi lokasi utama konklaf, menjaga tradisi pemilihan paus dalam suasana penuh keheningan dan kerahasiaan.
Baca Juga: Indonesia Butuh Pemimpin Welas Asih Seperti Paus Fransiskus, Begini Alasannya
Sesuai Konstitusi Apostolik, untuk menjadi paus, seorang kardinal harus meraih dua pertiga suara dari seluruh kardinal elektor yang hadir.
Proses pemungutan suara dilakukan empat kali sehari hingga terpilih sosok baru yang akan memimpin Gereja Katolik.
Dari 135 kardinal yang berhak memilih, sebagian besar merupakan kardinal yang diangkat oleh Paus Fransiskus dalam 12 tahun terakhir kepemimpinannya.
Sementara sisanya diangkat oleh Paus Benediktus XVI dan Paus Yohanes Paulus II.
Baca Juga: Upacara Pemakaman Paus Fransiskus di Vatikan Dihadiri Pemimpin Dunia, Ini Daftar Lengkapnya
Istilah konklaf berasal dari bahasa Latin cum clave yang berarti dengan kunci, merujuk pada praktik mengunci para kardinal di ruang tertutup hingga paus baru terpilih.
Tradisi ini bertujuan untuk menjaga independensi dan konsentrasi penuh dalam proses pemilihan.
Sejarah mencatat bahwa sebelum Kapel Sistina menjadi lokasi tetap, konklaf pernah diadakan di kota-kota seperti Viterbo di Italia dan Avignon di Perancis.
Konklaf kali ini diselenggarakan setelah wafatnya Paus Fransiskus pada 21 April 2025, yang telah dimakamkan dengan penghormatan kenegaraan di Basilika Santa Maria Maggiore.
Kini, perhatian dunia tertuju ke Vatikan, menantikan munculnya asap putih dari Kapel Sistina. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni