RADARTUBAN - Seorang perempuan asal Amerika Serikat, Audrey Backeberg, yang dinyatakan hilang sejak tahun 1962 akhinya ditemukan.
Audrey Backeberg tercatat sebagai orang hilang saat usianya masih 23 tahun, akhirnya ditemukan dalam keadaan hidup dan sehat pada usia 86 tahun setelah 63 tahun menghilang.
Audrey Backeberg menghilang dari rumahnya di kota kecil Reedsburg, Wisconsin, pada Juli 1962. Saat itu, dia berpamitan untuk mengambil gaji, namun tidak pernah kembali.
Selama bertahun-tahun, kasus hilangnya Audrey menjadi misteri dan masuk dalam kategori kasus dingin karena tidak ada petunjuk berarti yang ditemukan oleh pihak berwenang.
Organisasi advokasi orang hilang di Wisconsin mengungkapkan bahwa Audrey sudah menikah dan memiliki dua anak saat dia menghilang.
Beberapa hari sebelum menghilang, Audrey sempat melaporkan suaminya atas dugaan kekerasan dalam rumah tangga.
Seorang pengasuh bayi berusia 14 tahun mengaku sempat melarikan diri bersama Audrey dengan menumpang truk ke Madison, lalu melanjutkan perjalanan dengan bus ke Indianapolis.
Namun, pengasuh tersebut akhirnya kembali ke rumah, sementara Audrey menolak pulang dan terakhir terlihat berjalan menjauh dari halte bus.
Pada awal tahun ini, detektif Isaac Hanson dari Kantor Sheriff Sauk County meninjau ulang arsip kasus lama dan berhasil menemukan keberadaan Audrey di luar negara bagian Wisconsin.
Penemuan ini juga dibantu oleh kerabat perempuan Audrey yang memberikan informasi penting.
Setelah berbicara langsung dengan Audrey selama 45 menit, Hanson menyimpulkan bahwa Audrey memang memilih untuk meninggalkan kehidupannya di masa lalu dan tidak menyesali keputusannya.
"Saya rasa dia telah menjauh dan mencoba melupakan banyak hal sambil menjalani hidupnya. Ia terdengar bahagia dan percaya diri dengan keputusan yang diambilnya. Tidak ada penyesalan," ujar Hanson.
Kini, Audrey Backeberg hidup dalam kondisi sehat di luar Wisconsin. Meski banyak pertanyaan yang belum terjawab, kasus ini menjadi salah satu misteri orang hilang terlama yang akhirnya terpecahkan di Amerika Serikat. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni