Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Konklaf Pemilihan Paus Dimulai, Ini 16 Nama Kandidat Terkuat Pengganti Paus Fransiskus

Mohammad Mukarom • Rabu, 7 Mei 2025 | 21:06 WIB
Peci merah atau zucchetto yang biasa dikenakan oleh para kardinal
Peci merah atau zucchetto yang biasa dikenakan oleh para kardinal

RADARTUBAN - Sebanyak 133 kardinal dari seluruh penjuru dunia telah berkumpul di Vatikan untuk mengikuti konklaf pemilihan Paus baru, dijadwalkan dimulai pada Rabu (7/5).

Meskipun belum ada kampanye resmi atau pengumuman nama kandidat, berbagai spekulasi mengenai calon pengganti Paus Fransiskus terus mencuat.

Setidaknya terdapat 16 nama papabile atau kandidat potensial yang diprediksi memiliki peluang besar, menurut laporan AFP.

Figur-figur ini berasal dari berbagai benua dengan latar belakang pelayanan dan ideologi yang beragam.

Mulai dari yang progresif, moderat, hingga konservatif, semuanya dianggap mencerminkan masa depan arah Gereja Katolik.

Dari kawasan Eropa, Kardinal Pietro Parolin asal Italia disebut-sebut sebagai kandidat terkuat.

Dia saat ini menjabat sebagai orang nomor dua di Vatikan dan dikenal memiliki pembawaan tenang serta humoris dalam menjalankan peran strategisnya.

Kardinal Pierbattista Pizzaballa juga berasal dari Italia dan menjadi pemimpin Katolik di Timur Tengah.

Setelah diangkat sebagai kardinal pada 2023, dirinya tampil menonjol dalam misi perdamaian di kawasan konflik seperti Gaza dan Yerusalem.

Nama Matteo Maria Zuppi turut diperhitungkan karena keterlibatannya dalam misi perdamaian Ukraina serta komitmennya pada isu sosial.

Kardinal Zuppi dikenal sebagai pribadi sederhana yang dekat dengan masyarakat dan mendukung inklusivitas sosial.

Claudio Gugerotti, akademisi multibahasa asal Verona, menjadi kandidat lain yang diincar. Dia memiliki pengalaman sebagai duta besar Takhta Suci di beberapa negara dan pakar Gereja Timur.

Sosok Jean-Marc Aveline dari Prancis turut bersinar karena kiprahnya dalam dialog antaragama dan pembelaan terhadap pengungsi.

Ia menjadi kardinal sejak 2022 dan menjalin kedekatan khusus dengan Paus Fransiskus.

Anders Arborelius asal Swedia juga masuk radar sebagai kardinal pertama dari negara itu sejak Reformasi Protestan.

Pihaknya dikenal sebagai pembela nilai-nilai Gereja dan terbuka terhadap penerimaan para imigran.

Kandidat lain dari Eropa adalah Kardinal Mario Grech asal Malta yang menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Sinode Uskup.

Dia memikul tanggung jawab menjembatani suara dari umat di seluruh dunia kepada kepausan.

Peter Erdo dari Hungaria menjadi salah satu nama konservatif yang diperhitungkan, dan dihormati sebagai pakar hukum kanonik, serta dikenal atas keterbukaannya terhadap agama lain meskipun memiliki kedekatan dengan politikus nasionalis.

Jean-Claude Hollerich dari Luksemburg adalah anggota ordo Yesuit seperti Paus Fransiskus.

Dengan pengalamannya di Jepang dan pandangannya yang moderat, ia banyak terlibat dalam reformasi pastoral Gereja.

Dari Asia, nama Luis Antonio Tagle asal Filipina menjadi sorotan utama sebagai sosok penuh empati dan humor.

Selain itu, ia dikenal vokal dalam membela kaum marginal serta aktif berdialog dalam isu-isu kritis Gereja.

Charles Maung Bo dari Myanmar turut mencuat sebagai pembela hak asasi manusia, termasuk minoritas Rohingya. Ia menjabat sebagai Ketua Federasi Konferensi Uskup Asia dalam dua periode.

Afrika juga menyumbangkan nama-nama kuat seperti Peter Turkson dari Ghana yang lama disebut sebagai calon paus kulit hitam pertama.

Dikenal aktif membela kemanusiaan dan kritik terhadap diskriminasi.

Robert Sarah dari Guinea menjadi figur konservatif yang cukup kontroversial dalam isu-isu moralitas dan liturgi.

Walau demikian, ia disebut kurang memiliki dukungan dua pertiga suara konklaf.

Nama Fridolin Ambongo Besungu dari Republik Demokratik Kongo juga ramai diperbincangkan karena perannya di Dewan Kardinal.

Dirinya tegas menolak perubahan yang bertentangan dengan doktrin Gereja, termasuk dalam isu pemberkatan pasangan sesama jenis.

Sementara itu dari Amerika, Kardinal Robert Francis Prevost membawa pengalaman misionaris panjang di Peru dan menjabat dalam Komisi Kepausan untuk Amerika Latin.

Ia menunjukkan kepemimpinan yang sejalan dengan visi Paus Fransiskus.

Terakhir, Kardinal Timothy Dolan dari Amerika Serikat mencuat sebagai sosok konservatif yang vokal menentang aborsi.

Ia juga fokus dalam upaya menyatukan komunitas Katolik Hispanik di tengah menurunnya jumlah jemaat di New York.

Konklaf ini digelar di tengah berbagai tantangan Gereja Katolik global, termasuk krisis kepercayaan dan penurunan jumlah pengikut

Pilihan terhadap paus baru diharapkan mencerminkan keseimbangan antara nilai-nilai tradisional dan kebutuhan zaman modern.

Pemilihan Paus tidak hanya soal kepemimpinan spiritual, namun juga penentu arah strategis Gereja dalam merespons isu-isu dunia.

Kini, perhatian dunia tertuju pada siapa yang akan terpilih sebagai pemimpin tertinggi umat Katolik berikutnya. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Konklaf #pemilihan paus baru #vatikan #paus fransiskus #kandidat potensi