RADARTUBAN- Seiring dengan meningkatnya kebutuhan energi untuk pusat data di seluruh dunia, beberapa perusahaan teknologi besar seperti Microsoft dan Google tengah mengembangkan pusat data bertenaga nuklir.
Namun, Relativity Space membawa inovasi ini ke level berikutnya dengan merancang pusat data yang beroperasi di luar angkasa, menggunakan tenaga surya sebagai sumber energi utamanya.
Kebutuhan energi pusat data saat ini terus melonjak secara signifikan.
Eric Schmidt, CEO Relativity Space dan mantan CEO Google menjelaskan bahwa satu pembangkit listrik tenaga nuklir di Amerika Serikat rata-rata menghasilkan daya sekitar 1 gigawatt (GW).
Namun, beberapa pusat data yang sedang dibangun diperkirakan membutuhkan daya hingga 10 GW.
Lebih jauh lagi, kebutuhan energi ini diprediksi akan meningkat drastis menjadi sekitar 29 GW pada tahun 2027, dan melonjak hingga 67 GW pada tahun 2030.
Schmidt menyebutkan bahwa skala kebutuhan ini sangat besar dan belum pernah ia saksikan sebelumnya, terutama seiring dengan perkembangan pesat kecerdasan buatan (AI).
Untuk mengatasi lonjakan kebutuhan energi tersebut, Schmidt mengusulkan solusi revolusioner: memanen energi matahari langsung dari luar angkasa.
Dengan memanfaatkan tenaga surya yang melimpah di orbit Bumi, pusat data Relativity Space akan mampu beroperasi secara efisien tanpa bergantung pada sumber energi konvensional di darat.
Langkah ini sekaligus menjadi alasan utama Schmidt mengakuisisi saham mayoritas Relativity Space pada Maret 2025, dengan tujuan membangun pusat data luar angkasa yang ramah lingkungan dan berdaya tinggi.
Meski demikian, Schmidt belum mengungkapkan detail teknis mengenai bagaimana pusat data ini akan dibangun dan dioperasikan di antariksa.
Relativity Space tengah mengembangkan roket peluncur bernama Terran R, yang dirancang dengan teknologi komponen yang dapat digunakan kembali (reusable).
Roket ini diperkirakan mampu mengirimkan muatan hingga 33,5 ton ke orbit rendah Bumi dalam mode sekali pakai, dan sekitar 23,5 ton jika digunakan secara berulang.
Terran R menjadi salah satu kunci untuk mewujudkan misi pusat data luar angkasa ini, mengingat kapasitas dan efisiensinya yang tinggi.
Namun, untuk mendukung ambisi besar ini, Schmidt sedang mencari mitra tambahan guna mendanai pengembangan Relativity Space.
Mengingat kekayaannya yang sekitar 20 miliar dolar AS masih jauh di bawah miliarder seperti Elon Musk dan Jeff Bezos.
Di Amerika Serikat, akses ke roket besar dengan kontrol penuh masih terbatas. SpaceX dan Blue Origin, yang dimiliki oleh Elon Musk dan Jeff Bezos, mendominasi pasar roket besar.
Alternatif lain seperti roket Vulcan milik United Launch Alliance memiliki biaya yang tinggi.
Sementara wahana Neutron dari Rocket Lab yang akan segera diluncurkan memiliki kapasitas yang lebih kecil, kurang sesuai untuk misi ambisius Schmidt.
Dengan mengembangkan Terran R, Relativity Space berupaya mengisi celah ini dan memberikan solusi peluncuran yang lebih terjangkau dan fleksibel untuk misi luar angkasa, termasuk pembangunan pusat data di orbit.
Inisiatif Relativity Space ini menandai langkah besar dalam evolusi pusat data dan pemanfaatan energi terbarukan.
Dengan menggabungkan teknologi antariksa dan energi surya, proyek ini berpotensi mengubah cara industri teknologi memenuhi kebutuhan energi yang terus meningkat, sekaligus mengurangi dampak lingkungan.
Jika berhasil, pusat data luar angkasa bertenaga surya ini bisa menjadi model baru yang menginspirasi inovasi serupa di masa depan, mendukung perkembangan AI dan teknologi digital dengan cara yang lebih berkelanjutan dan efisien. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni