RADARTUBAN – Zhao Weiguo, mantan Chairman perusahaan semikonduktor raksasa Tsinghua Unigroup, dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan di Provinsi Jilin, China, Rabu (14/5).
Vonis ini diberikan setelah Zhao terbukti melakukan tindak pidana korupsi dan penggelapan dana dalam jumlah besar.
Tentu ini menjadi sorotan dalam upaya China memberantas korupsi di sektor teknologi strategis.
Pengadilan menyatakan Zhao bersalah atas penggelapan dana dalam skala besar, memperoleh keuntungan secara ilegal, serta sengaja merugikan perusahaan yang terdaftar.
Zhao diketahui menyalahgunakan kekuasaannya dengan mendistribusikan keuntungan perusahaan kepada rekan dan keluarganya.
Dari hal tersebut menyebabkan kerugian besar bagi perusahaan dan negara.
Zhao dijatuhi hukuman mati dengan masa penangguhan eksekusi selama dua tahun.
Artinya, hukuman mati hanya akan dilaksanakan jika Zhao melakukan pelanggaran hukum tambahan selama masa penangguhan tersebut.
Jika tidak, setelah dua tahun, hukuman akan diubah menjadi penjara seumur hidup tanpa kemungkinan pembebasan bersyarat.
Selain hukuman mati, Zhao juga dikenai denda sebesar 12 juta yuan (sekitar Rp 27,4 miliar), kehilangan hak politik seumur hidup, dan diwajibkan menyerahkan aset-aset pribadinya yang diperoleh secara ilegal.
Zhao Weiguo merupakan lulusan Universitas Tsinghua, salah satu institusi pendidikan paling bergengsi di Beijing.
Ia memulai karier di Tsinghua Unigroup pada 1993 dan memimpin perusahaan sejak 2009 hingga penyelidikan atas dirinya dimulai pada 2022.
Tsinghua Unigroup adalah perusahaan semikonduktor milik negara yang sempat diharapkan menjadi ujung tombak kemandirian China di bidang chip canggih.
Namun, di bawah kepemimpinan Zhao, perusahaan menumpuk utang besar akibat ekspansi dan akuisisi yang tidak terarah.
Hingga gagal membayar obligasi pada 2020 dan harus menjalani restrukturisasi besar-besaran.
Kasus Zhao menjadi bagian dari kampanye antikorupsi besar-besaran yang digalakkan Presiden Xi Jinping selama satu dekade terakhir.
Pemerintah China menegaskan komitmennya menindak tegas korupsi di sektor vital, termasuk industri teknologi yang menjadi tulang punggung ambisi kemandirian nasional di tengah persaingan global.
Vonis berat terhadap Zhao Weiguo diharapkan menjadi peringatan keras bagi pelaku bisnis dan pejabat di sektor strategis agar tidak menyalahgunakan kekuasaan dan merugikan negara. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni