RADARTUBAN - Pria berusia 45 tahun dari Arab Saudi mengalami rasa sakit di area perut bagian atas dan demam yang berlangsung selama sepuluh hari.
Setelah dilakukan pemeriksaan, ditemukan adanya abses atau kumpulan nanah pada lobus kanan hati.
Menurut detikHealth, tim medis segera mengangkat abses tersebut dan memberikan pengobatan antibiotik selama sepuluh hari.
Demamnya mulai reda, dan pasien pun diizinkan untuk pulang.
Namun, sebulan kemudian, pria tersebut kembali dibawa ke ruang gawat darurat karena mengalami sakit perut selama enam hari berturut-turut dan demam mencapai lebih dari 39,1 derajat Celsius.
Di rumah sakit, pasien menjalani pemeriksaan darah yang menunjukkan peningkatan jumlah sel darah putih.
Yang mana merupakan sel imun yang berfungsi melawan infeksi, serta kadar albumin, yaitu protein yang biasanya diproduksi oleh hati, yang lebih rendah dari keadaan normal.
Dokter melakukan rontgen perut, tetapi tidak menemukan adanya kelainan.
"Pemindaian CT abdomen pasien menunjukkan kondisi normal pada ginjal, limpa, pankreas, dan kantung empedu," tulis dokter dalam laporan kasus yang dikutip dari Live Science.
Dalam laporan yang diterbitkan oleh National Library of Medicine, tim dokter menemukan dua anomali di bagian tengah organ hati pasien.
Yang pertama adalah lesi yang menyerupai abses, sementara yang kedua adalah benda keras berbentuk seperti ranting di dalam lesi tersebut dengan ukuran sekitar 2,5 cm.
Dari hasil diagnosis, dokter menduga bahwa benda yang tidak dikenal itulah yang menyebabkan abses.
Sehingga, kemungkinan besar itu jadi penyebab dari abses pertama yang dialami pasien sebulan sebelumnya.
Setelah pasien menerima pengobatan dengan antibiotik, dokter melakukan prosedur operasi perut yang disebut laparotomi untuk mengeluarkan benda asing tersebut.
Ternyata, benda tersebut merupakan tulang ikan.
Pasien mengungkapkan bahwa dia mungkin menelannya saat mengonsumsi ikan sekitar lima bulan sebelumnya.
Namun ia tidak ingat merasakan sesuatu yang aneh pada saat itu.
Setelah operasi, kondisi pasien mulai menunjukkan perbaikan. Selama tiga bulan berikutnya, rumah sakit memantau kesehatannya, dan pasien tidak lagi mengalami masalah perut.
"Banyak tulang ikan kecil, jika tertelan, akan melewati sistem pencernaan tanpa menimbulkan bahaya dalam waktu sekitar satu minggu," tulis laporan kasus tersebut. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni