RADARTUBAN -Pada Jumat pagi, 23 Mei 2025, sebuah serangan udara yang dilakukan oleh militer Israel menghantam rumah keluarga Dr. Alaa al-Najjar di Khan Younis, Gaza Selatan.
Tragedi memilukan ini menewaskan sembilan dari sepuluh anaknya, sementara satu anak lainnya dalam kondisi kritis dan menjalani perawatan intensif pasca-operasi darurat.
Serangan terjadi hanya beberapa menit setelah suami Dr. Alaa, yang juga seorang dokter, meninggalkan rumah untuk mengantarnya bertugas.
Selain anak-anak yang menjadi korban, suami Dr. Alaa mengalami luka serius dan kini dirawat di rumah sakit yang sama.
Korban dalam tragedi ini sangat menyayat hati. Sembilan anak Dr. Alaa yang berusia antara 3 hingga 12 tahun meninggal dunia akibat luka bakar dan trauma ledakan yang parah.
Satu anak lainnya berhasil selamat, namun kondisinya sangat kritis dan masih menjalani perawatan intensif.
Suami Dr. Alaa juga mengalami luka serius akibat serangan tersebut.
Meski kehilangan hampir seluruh anaknya, Dr. Alaa tetap memilih untuk menjalankan tugasnya sebagai tenaga medis di Rumah Sakit Nasser, merawat pasien di tengah kepedihan yang mendalam.
Muhammad Abu Salmiya, kolega Dr. Alaa, menyatakan bahwa keberanian Dr. Alaa yang tetap menyelamatkan nyawa orang lain di tengah duka yang luar biasa adalah sesuatu yang sangat menginspirasi dan tak terbayangkan.
Seperti diketahui, konflik yang berkepanjangan di Gaza telah menimbulkan dampak besar terhadap anak-anak dan tenaga medis.
Berdasarkan laporan UNICEF terbaru pada Mei 2025, lebih dari 12.000 anak Palestina telah tewas sejak tahun 2023.
Selain itu, sebanyak 135 tenaga medis menjadi korban dalam konflik ini, dan sekitar 70% fasilitas kesehatan di Gaza telah hancur.
Data ini menggambarkan betapa parahnya situasi kemanusiaan di wilayah tersebut, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan tenaga medis yang berjuang di garis depan.
Serangan yang menimpa keluarga Dr. Alaa al-Najjar mendapat kecaman keras dari berbagai lembaga internasional.
PBB mengecam serangan ini sebagai pelanggaran hak asasi manusia yang berat.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut serangan terhadap keluarga tenaga medis sebagai kejahatan perang yang tidak dapat dibenarkan.
Di dunia maya, netizen dari berbagai negara menggalang dukungan dengan tagar #SaveGazaDoctors yang menjadi trending global, sebagai bentuk solidaritas dan seruan untuk perlindungan tenaga medis di zona konflik.
Meskipun berbagai upaya bantuan kemanusiaan telah disiapkan, akses ke Gaza masih sangat terbatas dan penuh hambatan.
Saat ini, sekitar 100 truk makanan yang disiapkan oleh UNRWA tertahan di perbatasan Rafah, sementara hanya sekitar 20% dari kebutuhan obat-obatan yang berhasil masuk ke Gaza.
Kondisi ini memperparah krisis kemanusiaan yang sudah sangat kritis, terutama bagi anak-anak dan tenaga medis yang menjadi garda terdepan dalam memberikan pertolongan dan perawatan.
Tragedi keluarga Dr. Alaa al-Najjar adalah gambaran kelam dari konflik yang terus berlangsung di Gaza, yang tidak hanya merenggut nyawa warga sipil, terutama anak-anak, tetapi juga menghancurkan harapan dan masa depan mereka.
Keberanian Dr. Alaa yang tetap bertugas di tengah duka mendalam menjadi simbol keteguhan dan kemanusiaan yang patut dihargai.
Dunia internasional harus terus meningkatkan tekanan dan dukungan agar perlindungan terhadap warga sipil dan tenaga medis di zona konflik dapat ditegakkan, serta memastikan bantuan kemanusiaan dapat masuk tanpa hambatan. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama