Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Gunung Es Raksasa A23a Mulai Runtuh di Laut Scotia, Ancam Ekosistem dan Jalur Pelayaran

Alifah Nurlias Tanti • Rabu, 28 Mei 2025 | 02:35 WIB
Gunung es mencair
Gunung es mencair

RADARTUBAN- Gunung es A23a mulai menghancurkan diri menjadi ribuan fragmen kecil setelah terjebak di perairan dekat kawasan perlindungan hewan di Antarktika.

Pembaruan terkini mengenai gambar satelit dari gunung es terbesar di dunia menandakan bahwa proses pemecahannya masih berlangsung.

Para peneliti memperkirakan bahwa diperlukan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun agar bagian besar es ini sepenuhnya lenyap dari lautan.

Menurut laporan dari Live Science pada hari Senin (26/05), gunung es A23a memiliki luas sekitar 3.100 kilometer persegi, yang lebih besar dibandingkan dengan seluruh wilayah negara Luksemburg.

Es raksasa ini pertama kali terlepas dari Lapisan Es Filchner-Ronne, bagian dari Antarktika barat, pada tahun 1986.

Namun, pergerakan gunung es tersebut sempat terhenti karena bagian dasarnya terperangkap di dasar laut yang dangkal di Laut Weddell.

Selama lebih dari tiga dekade, A23a terjebak, berada di tempatnya bak daratan es yang melayang, hingga pada Januari 2023 saatnya mulai bergerak menjauh dari Antarktika.

Gumpalan es raksasa ini kerap disebut-sebut sebagai yang terluas di jagat raya , bersanding dengan bongkahan es lain yang perlahan menyusut .

Sempat merebut kembali gelar gunung es terakbar pada Juni 2023, A23a sekali lagi tertahan di awal tahun 2024 karena arus berputar samudera menghambat lajunya.

Arus laut yang rumit di sekeliling Antarktika sering kali jadi perangkap alami bagi gunung es besar.

Sekitar beberapa bulan kemudian, A23a akhirnya melanjutkan perjalanannya ke utara menyeberangi Lintasan Drake, area lautan liar yang dikenal sebagai "kuburan gunung es" karena banyak gunung es besar yang runtuh dan mencair di lokasi ini.

Namun, bukannya hancur di jalur tersebut, A23a terus bergerak ke timur laut menuju Georgia Selatan di Laut Scotia, dan pada bulan Januari 2025 akhirnya mendekati pulau itu.

Pada bulan Maret 2025, gunung es tersebut kembali terhenti, kali ini setelah menabrak dasar laut yang dangkal sekitar 100 kilometer dari pantai barat daya Georgia Selatan.

Situasi ini menandai kali ketiga dan kemungkinan terakhir A23a terjebak selama perjalanan yang panjang ini.

Citra dari satelit Aqua milik NASA menunjukkan bahwa sisi utara A23a mulai mengalami peluruhan yang dikenal sebagai edge wasting.

Ribuan potongan kecil es terhampar di lautan sekitar gunung es utama.

Walaupun terlihat kecil dibandingkan A23a secara keseluruhan, beberapa potongan ini memiliki panjang hingga satu kilometer dan dapat menjadi ancaman serius bagi navigasi kapal.

Salah satu pecahan terbesar yang terpisah dari A23a dinamakan A23c.

Potongan ini memiliki luas sekitar 130 kilometer persegi dan saat ini bergerak ke arah selatan dibawa oleh arus laut.

Proses penghancuran A23a yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir telah mengecilkan ukuran gunung es tersebut sekitar 520 kilometer persegi sejak Maret 2025.

Ledakan populasi fitoplankton dapat memberikan dukungan untuk ekosistem laut secara keseluruhan, dimulai dari krill hingga paus.

Ini bukan merupakan pertama kalinya Georgia Selatan menghadapi ancaman dari gunung es raksasa.

Pada tahun 2020, gunung es A68 hampir mencapai pulau tersebut yang memicu kekhawatiran di tingkat global.

Namun, gunung es itu cepat terpecah menjadi puluhan bagian lebih kecil akibat terbawa arus laut dan gelombang yang kuat, sehingga mencair lebih cepat tanpa menyebabkan bencana ekologis yang signifikan. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Laut Scotia #Georgia Selatan #gunung es #Perlindungan Hewan #mencair #antartika