RADARTUBAN – Paris kerap dijuluki Kota Cinta, tempat di mana pasangan berjalan bergandengan tangan di tepian Sungai Seine dan menikmati makan malam romantis di bawah cahaya lilin.
Julukan ini bukan sekadar label wisata, melainkan lahir dari sejarah panjang, keindahan arsitektur, dan citra budaya yang melekat kuat pada kota ini.
Secara geografis, Paris menempati posisi strategis di antara jalur darat dan sungai penting di Prancis.
Sejak abad ke-10, di bawah pemerintahan Raja Hugh Capet, Paris ditetapkan sebagai ibu kota dan tumbuh menjadi pusat kekuasaan, perdagangan, dan kebudayaan.
Transformasi besar-besaran terjadi sejak abad ke-14. Paris mengalami urbanisasi pesat, namun tetap mempertahankan warisan arsitektur klasik seperti Katedral Notre Dame.
Di era modern, Paris menjadi rumah bagi merek-merek global seperti Chanel, Airbus, hingga Lacoste, serta menyambut sekitar 50 juta turis setiap tahun.
Baca Juga: Inilah Capaian Tim Panjat Tebing Indonesia pada Olimpiade Paris 2024
Mengapa Dijuluki Kota Cinta?
Julukan Kota Cinta muncul dari berbagai elemen yang berpadu menciptakan suasana romantis: arsitektur klasik, taman-taman asri, dan kuliner yang menggoda.
Bahasa Prancis yang dijuluki bahasa cinta, lengkap dengan ungkapan seperti je t’aime, juga memperkuat citra tersebut.
Menariknya, sisi gelap sejarah Paris turut membentuk reputasi ini.
Pada awal abad ke-19, kota ini sempat padat dan miskin, memunculkan kawasan-kawasan dengan kehidupan malam yang semarak.
Bersamaan dengan itu, dunia seni dan hiburan tumbuh pesat, menjadikan Paris magnet bagi pria lajang dan para seniman dari penjuru Eropa.
Renovasi besar-besaran pada era Napoleon III mengubah wajah Paris. Kawasan kumuh disulap menjadi bulevar lebar dan taman terbuka.
Kehidupan sosial yang dinamis, ditambah budaya seni dan cinta, menjadikan Paris tempat di mana "cinta"—baik secara harfiah maupun metaforis—dapat ditemukan.
Paris juga menjadi latar favorit film-film romantis seperti Midnight in Paris dan Amélie, serta destinasi bulan madu idaman pasangan dari seluruh dunia.
Kota Cahaya dan Ibu Kota Mode
Selain Kota Cinta, Paris juga dikenal sebagai Kota Cahaya (La Ville Lumière).
Julukan ini berakar dari dua hal: peran Paris sebagai pusat pemikiran pada era Pencerahan—rumah bagi tokoh seperti Voltaire dan Rousseau—dan posisinya sebagai pelopor penerangan jalan menggunakan lampu gas di abad ke-19.
Paris menjadi salah satu kota pertama yang menerapkan pencahayaan malam hari secara luas, membawa perubahan besar pada kehidupan sosial dan ekonomi kota.
Tak hanya itu, Paris juga merupakan salah satu dari Empat Ibu Kota Mode Dunia, bersama London, New York, dan Milan.
Sejak abad ke-18, kota ini menjadi kiblat tren fashion global dan tuan rumah berbagai pekan mode bergengsi.
Dengan perpaduan antara sejarah, seni, cinta, dan inovasi, Paris membuktikan diri sebagai kota yang selalu memesona.
Entah karena romantisme kisah cinta atau cahaya yang memancar dari setiap sudutnya, Paris tak pernah kehilangan daya tariknya. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama