RADARTUBAN - TikToker ternama dunia, Khaby Lame, ditangkap oleh petugas Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat (ICE) pada, Jumat (6/6) karena diduga melampaui batas waktu izin tinggal visanya.
Kejadian ini berlangsung di tengah penerapan kebijakan imigrasi yang semakin ketat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump.
Banyak pihak melihat penahanan Khaby sebagai contoh nyata dari sikap tegas pemerintah AS terhadap para imigran, termasuk yang berstatus selebritas internasional.
Juru bicara ICE, sebagaimana dikutip dari APNews pada Kamis (12/6), menyatakan bahwa Khaby—yang memiliki nama lengkap Seringe Khabane Lame dan berkewarganegaraan Italia—ditahan karena menetap di Amerika Serikat melebihi masa berlaku visanya. Ia tercatat masuk ke AS pada 30 April 2025.
Setelah penahanannya, Khaby diizinkan untuk meninggalkan Amerika Serikat secara sukarela tanpa dikenai perintah deportasi resmi.
Keputusan ini diambil guna mencegah namanya masuk dalam daftar deportasi, yang berpotensi melarangnya kembali ke AS selama maksimal sepuluh tahun.
Imbas ketegasan imigrasi Trump
Penangkapan Khaby Lame terjadi di tengah gelombang pengetatan aturan imigrasi yang kembali diberlakukan oleh Presiden Donald Trump.
Pada masa kepemimpinannya yang pertama (2017–2021), Trump dikenal dengan sejumlah kebijakan imigrasi yang kontroversial, seperti pelarangan masuk bagi warga dari negara-negara mayoritas Muslim, pemisahan keluarga migran di perbatasan, hingga pencabutan program perlindungan bagi imigran muda (DACA).
Setelah kembali menjabat pada tahun 2025, Trump dengan cepat mendorong penerapan kebijakan imigrasi yang lebih ketat, termasuk memperketat aturan visa dan meningkatkan intensitas razia terhadap imigran ilegal.
Salah satu kota yang merasakan dampak langsung dari kebijakan ini adalah Los Angeles, yang baru-baru ini dilanda aksi protes besar-besaran akibat penggerebekan massal oleh pihak ICE.
Kasus yang menimpa Khaby Lame, meskipun melibatkan figur publik terkenal, menunjukkan bahwa kebijakan saat ini diberlakukan secara merata tanpa memperhatikan status sosial, baik selebritas maupun warga biasa.
Trump menegaskan penegakan aturan visa secara ketat, termasuk terhadap mereka yang melewati batas masa tinggal yang diizinkan.
Wisatawan yang melanggar masa berlaku visa, meskipun hanya dalam waktu singkat, kini dihadapkan pada sanksi yang lebih berat, seperti penahanan, pemeriksaan dari pihak ICE, hingga pelarangan masuk kembali ke AS selama satu dekade.
Pemerintahannya juga kembali menerapkan kebijakan “toleransi nol” terhadap imigran ilegal, sehingga pelanggaran kecil sekalipun—termasuk kesalahan administratif terkait visa—berpotensi memicu tindakan hukum atau penahanan.
Trump juga menandatangani perintah eksekutif yang memperketat berbagai kategori visa, mengurangi jumlah pengungsi yang diterima, serta memperketat proses verifikasi bagi wisatawan, pelajar, dan influencer.
Khususnya mereka yang berasal dari negara yang diklasifikasikan sebagai “berisiko tinggi” atau memiliki kewarganegaraan ganda, seperti Khaby Lame yang berkewarganegaraan Senegal dan Italia.
Seperti diketahui, Khaby Lame, selebritas asal Senegal yang besar di Italia, meraih ketenaran global lewat video TikTok ikoniknya yang membongkar trik-trik "life hack" secara kocak tanpa berkata-kata.
Dengan lebih dari 162 juta pengikut, dia menjadi salah satu kreator paling populer di dunia. Popularitas ini mengantarkannya bekerja sama dengan brand ternama seperti Hugo Boss, bahkan diangkat menjadi duta besar UNICEF awal tahun ini.
Beberapa hari sebelum penangkapannya oleh pihak imigrasi AS, Khaby sempat tampil di acara bergengsi Met Gala 2025 di New York City.
Namun, insiden yang terjadi di Las Vegas terkait pelanggaran batas waktu visa bisa menjadi titik balik dalam hubungannya dengan Amerika Serikat.
Hingga kini, Khaby belum menyampaikan pernyataan resmi mengenai insiden tersebut. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama