RADARTUBAN - Samsung mencari solusi untuk produksi chip yang mahal. Vendor Tiongkok bisa menjadi kunci efisiensi, tetapi ada risiko pencurian teknologi.
Samsung dikabarkan tengah mempertimbangkan untuk menjalin kerja sama dengan sejumlah perusahaan Tiongkok demi mendapatkan bahan baku penting dalam pembuatan panel OLED.
Langkah ini dikabarkan sebagai upaya Samsung untuk menekan biaya produksi karena proses manufaktur chip terbaru mereka yang sangat mahal.
Selama bertahun-tahun, Samsung hanya menggandeng pemasok dari dalam negeri, Amerika Serikat, dan Jepang.
Hanya saja, seiring meningkatnya biaya produksi chip 2nm yang digunakan pada Exynos 2600, perusahaan mulai melirik opsi lain demi efisiensi.
Pasalnya prototipe chip Exynos 2600 diketahui telah diproduksi massal menggunakan teknologi GAA 2nm, namun hasil produksinya masih rendah.
Produksi massal chip tersebut belum mencapai target 70 persen agar mampu dianggap menguntungkan secara bisnis.
Semakin rendah hasil produksinya, maka semakin mahal biaya per chip yang harus ditanggung oleh Samsung.
Dan di sinilah kemungkinan kerja sama dengan perusahaan Tiongkok muncul.
Dengan bahan dan komponen yang lebih murah, Samsung berharap bisa menekan biaya sekaligus meningkatkan spesifikasi produk.
Hal ini akan berimbas pada spesifikasi seri Galaxy S26 yang akan datang.
Mengingat Samsung sempat dikritik karena kurang agresif dalam peningkatan spesifikasi dibandingkan pesaingnya asal Tiongkok.
Tetapi langkah ini bukan tanpa resiko. Menjalin kerja sama dengan perusahaan luar berarti Samsung harus siap berbagi sebagian teknologi dan informasi penting milik perusahaan.
Hal tersebut membuka peluang terjadinya pencurian teknologi atau peniruan, apalagi Samsung dikenal sebagai produsen layar ponsel terbaik di dunia.
Apple, yang juga menggunakan layar dari Samsung, mungkin akan ikut terdampak jika kerja sama ini benar-benar terjadi. Kendati demikian, hingga saat ini belum ada keputusan resmi yang benar-benar diumumkan.
Kemitraan Samsung dengan Tiongkok hampir dipastikan bisa berdampak besar. Apple dan industri teknologi global mungkin ikut terpengaruh jika kerja sama ini terjadi. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama