Konflik Semakin Memanas! Donald Trump Serukan agar Iran Menyerah Tanpa Syarat pada Israel
Hardiyati Budi Anggraeni• Sabtu, 21 Juni 2025 | 01:34 WIB
Konflik Israel dan Iran semakin memanas
RADARTUBAN- Konflik antara Israel dan Iran kembali memanas usai serangan Israel terhadap fasilitas nuklir dan militer Iran pada Jumat (13/6).
Sebagai respons, Teheran membalas dengan meluncurkan serangan udara ke wilayah Israel, memperluas eskalasi militer di kawasan.
Kementerian Kesehatan Iran melaporkan sedikitnya 220 korban jiwa akibat serangan Israel sejak awal serangan.
Sementara itu, otoritas Israel menyebutkan bahwa balasan dari Iran telah menewaskan 24 orang di wilayah mereka.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dikabarkan tengah meninjau kemungkinan untuk mendukung Israel dalam menghantam titik-titik strategis nuklir Iran.
Sinyal ini muncul setelah percakapannya dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, pasca pertemuan Dewan Keamanan Nasional AS pada Selasa (17/6).
Trump, melalui unggahan di media sosial, sempat menyerukan agar Iran menyerah tanpa syarat.
Dia juga menyatakan bahwa AS mengetahui keberadaan Ayatollah Ali Khamenei, namun tidak berencana menyerangnya untuk saat ini.
Khamenei membalas pernyataan itu dengan peringatan bahwa intervensi AS akan menimbulkan kerusakan yang tak bisa dipulihkan.
Sebelum serangan dimulai, militer Israel (IDF) telah mengimbau warga Distrik 18 di Teheran untuk segera meninggalkan lokasi.
Beberapa jam kemudian, ledakan terjadi di kawasan perumahan, termasuk serangan ke Teheran yang mengakibatkan gangguan pada studio penyiaran pemerintah dan menewaskan tiga staf media.
Serangan Israel ke situs nuklir Natanz disebut menyebabkan kerusakan parah.
Netanyahu menyebut misi militer Rising Lion sebagai upaya langsung menghantam jantung program nuklir Iran.
Sebaliknya, Teheran menegaskan proyek nuklir mereka murni untuk kepentingan damai.
Tak berselang lama, Iran membalas dengan menembakkan lebih dari 100 rudal balistik ke berbagai instalasi militer Israel, termasuk pangkalan udara.
Meski sebagian berhasil dihadang oleh sistem pertahanan Iron Dome, beberapa rudal berhasil menembus dan menewaskan warga sipil.
IDF mengklaim telah menargetkan pusat-pusat pengembangan drone dan peluncur rudal milik Iran.
Serta menyatakan telah menghancurkan sepertiga dari infrastruktur peluncur rudal milik Iran dan menguasai sepenuhnya wilayah udara Teheran.
Sejumlah komandan tinggi Iran dilaporkan tewas, termasuk pemimpin IRGC Hossein Salami dan beberapa ilmuwan nuklir ternama. Iran mengonfirmasi korban jiwa di pihak sipil, termasuk anak-anak.
Krisis nuklir di tengah diplomasi yang terbengkalai, menjadi konflik yang turut menggaggalkan rencana pertemuan antara AS dan Iran.
Padahal pertemuan tersebut sebelumnya telah dijadwalkan berlangsung pada Minggu (15/6)
Trump berharap dapat mendorong kesepakatan nuklir baru dengan Teheran, namun serangan balasan membuyarkan seluruh agenda diplomasi.
Israel menyebut operasi militer akan berlanjut selama diperlukan demi memastikan Iran tidak mengembangkan senjata nuklir.
Namun Iran bersikukuh bahwa program nuklirnya bertujuan damai, kendati laporan IAEA menyebut negara tersebut telah memperkaya uranium hingga 60%
Dengan kondisi yang kian genting dan diplomasi yang membeku, perhatian dunia kini tertuju pada bagaimana krisis ini akan berkembang dan apakah kekuatan global akan ikut terseret dalam pusaran konflik Timur Tengah yang kembali bergejolak. (*)