Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Iran Ancam Tutup Selat Hormuz karena Perang Israel, Begini Dampak Cadangan BBM Nasional

Dinatur Rohmah Briliana • Selasa, 24 Juni 2025 | 14:39 WIB
Situasi pertambangan minyak dan gas yang diperlihatkan di SKK Migas Corner di Solo Techno Park.
Situasi pertambangan minyak dan gas yang diperlihatkan di SKK Migas Corner di Solo Techno Park.

RADARTUBAN - Ancaman penutupan Selat Hormuz berpotensi ganggu distribusi energi di seluruh dunia.

Sehingga mengkhawatirkan stok cadangan energi bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia.

Sebelumnya, anggota senior parlemen Iran, Esmaeil Kowsari, menyampaikan pada Minggu (23/6) bahwa parlemen Iran telah bersepakat untuk menutup Selat Hormuz—jalur penting perdagangan energi dunia—sebagai bentuk reaksi terhadap serangan militer Amerika Serikat dan sikap pasif komunitas internasional.

"Parlemen telah menyimpulkan bahwa Selat Hormuz perlu ditutup, namun keputusan akhir ada di tangan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi," ujar Kowsari, anggota Komite Parlemen untuk Urusan Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri sebagaimana dikutip oleh kantor berita Iran, Press TV.

Terletak di mulut Teluk Persia, Selat Hormuz adalah salah satu titik sempit paling vital dalam sistem perdagangan energi global—dengan sekitar 20 persen dari total pasokan minyak dunia melaluinya setiap hari, yakni sekitar 17–18 juta barel.

Selain minyak, selat ini juga menjadi jalur utama pengiriman gas alam cair (LNG), terutama dari Qatar, yang merupakan salah satu negara eksportir LNG terbesar di dunia.

Selat Hormuz merupakan satu-satunya jalur laut yang menghubungkan Teluk Persia dengan perairan terbuka, sekaligus menjadi wilayah strategis bagi negara-negara penghasil minyak seperti Iran, Arab Saudi, Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab.

Para analis energi sudah lama memperingatkan bahwa gangguan di Selat Hormuz bisa memicu lonjakan harga minyak global dan mengancam stabilitas energi internasional.

Sebelum Amerika Serikat meluncurkan serangan terhadap tiga fasilitas nuklir Iran pada Minggu pagi, sejumlah pakar telah menyoroti risiko perluasan konflik ke wilayah laut.

Dalam wawancaranya dengan Press TV pekan lalu, sejumlah pakar strategi menilai bahwa intervensi militer langsung dari AS justru akan memperburuk posisi Washington dan pemerintahan Donald Trump, apalagi jika Selat Hormuz benar-benar ditutup.

Mereka memperingatkan bahwa perusahaan-perusahaan multinasional bisa berhenti beroperasi dalam hitungan hari karena pasokan energi yang terputus.

Beberapa perkiraan bahkan menyebutkan bahwa harga minyak bisa meroket hingga 80 persen hanya dalam sepekan jika jalur ini ditutup.

Mengingat jalur alternatif yang tersedia membutuhkan biaya logistik yang jauh lebih tinggi.

Bagaimana tanggapan Pertamina?

Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah akibat konflik antara Iran dan Israel, PT Pertamina Patra Niaga menegaskan bahwa pasokan bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri tetap aman dan terkendali.

“Untuk stok (BBM) saat ini aman,” tutur Sekretaris Perusahaan Pertamina Patra Niaga, Heppy Wulansari, seperti dikutip dari Antara pada Senin (23/6).

Pernyataan ini disampaikan sebagai respons atas eskalasi situasi di kawasan Timur Tengah, menyusul keputusan parlemen Iran yang menyetujui penutupan Selat Hormuz sebagai bentuk protes terhadap keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik tersebut.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, menambahkan bahwa pasokan minyak mentah nasional juga berada dalam kondisi yang stabil.

Namun dia mengakui bahwa penutupan Selat Hormuz bisa berdampak pada jalur distribusi minyak global, mengingat sekitar 20 persen pengiriman minyak dunia melewati selat itu.

"Pertamina sudah merancang jalur alternatif untuk pengadaan minyak mentah, di antaranya dari Oman dan India. Saat ini kami sedang menghitung kembali potensi kenaikan biaya operasional akibat perubahan rute ini," jelas Fadjar. (*)

 

Editor : Yudha Satria Aditama
#bbm #minyak #pertamina #iran #Israel #selat hormuz #konflik