RADARTUBAN— Perayaan musik tahunan Fête de la Musique yang seharusnya menjadi festival penuh kegembiraan, berubah menjadi malapetaka di berbagai kota besar Prancis.
Kerusuhan masif yang disertai kekerasan fisik dan serangan misterius menggunakan jarum suntik menyebabkan lebih dari 1.500 orang luka-luka, termasuk 13 anggota kepolisian.
Insiden terjadi pada Kamis (26/6) malam waktu setempat ketika jutaan warga memadati jalanan Paris dan kota-kota lainnya untuk menyambut musim panas dengan musik live gratis di ruang terbuka.
Namun euforia berubah menjadi kekacauan ketika terjadi penusukan, bentrokan dengan aparat, pembakaran puluhan kendaraan, hingga aksi brutal yang menargetkan pengunjung perempuan muda.
Sebanyak 145 korban dilaporkan mengalami serangan jarum suntik secara acak.
Korban, mayoritas perempuan usia remaja hingga awal 20-an, mengaku merasakan gejala seperti pusing mendadak, kebas, hingga kehilangan kesadaran.
Pihak berwenang menduga serangan ini melibatkan zat berbahaya seperti GHB atau Rohypnol yang dikenal sebagai obat bius dalam kejahatan seksual.
Kepolisian telah menangkap 12 orang yang terkait langsung dengan insiden ini, termasuk empat tersangka yang diyakini menyerang lebih dari 50 korban di kawasan Angoulême.
Pemeriksaan toksikologi sedang dilakukan untuk mengidentifikasi senyawa berbahaya yang digunakan.
Kepala Kepolisian Paris, Laurent Nuñez, mengungkapkan bahwa serangan jarum suntik diduga telah direncanakan terlebih dahulu dan disebarluaskan lewat grup media sosial.
Sejumlah peringatan dari aktivis bahkan sempat mencuat sebelum festival berlangsung, menunjukkan seruan daring yang menghasut kekerasan terhadap pengunjung perempuan.
Sebanyak 371 orang telah ditangkap atas berbagai pelanggaran mulai dari perusakan, pembakaran, hingga penganiayaan.
Aparat keamanan dinilai kewalahan menangani eskalasi kekerasan yang terjadi secara simultan di beberapa titik.
Publik dan pegiat HAM mendesak pemerintah Prancis agar segera mengevaluasi sistem pengamanan untuk acara publik berskala besar, termasuk pengawasan terhadap kampanye kekerasan digital yang semakin marak.
Fête de la Musique selama ini dikenal sebagai simbol kebebasan berekspresi dan merayakan keragaman musik di ruang terbuka.
Namun insiden tahun ini meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat Prancis—terutama kaum muda yang menjadi korban serangan terencana. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni