RADARTUBAN – Di saat banyak negara masih berkutat dengan transisi energi bersih, China melaju tanpa rem.
Negeri Tirai Bambu kembali mencuri perhatian dunia dengan sederet inovasi energi futuristik yang seolah keluar dari film fiksi ilmiah.
Mulai dari reaktor fusi nuklir terbesar di dunia hingga teknologi pemanen listrik dari tetesan hujan.
China baru saja membangun pusat riset teknologi fusi nuklir terbesar di dunia, mengalahkan Fasilitas Pengapian Nasional (NIF) di California—bahkan lebih besar hingga 50 persen.
Ini bukan cuma pencapaian arsitektural, tapi juga sinyal kuat bahwa China siap jadi pemimpin energi masa depan.
Berbeda dari teknologi fisi nuklir (yang menghasilkan limbah radioaktif), fusi nuklir menjanjikan energi tak terbatas, bebas emisi, dan tanpa limbah berbahaya.
Meski belum dikomersialkan, para ahli menyebutnya sebagai "cawan suci" teknologi energi masa depan.
Inovasi terbaru datang dari Tsinghua University, di mana para peneliti mengembangkan triboelectric nanogenerator (TENG)—alat mungil yang bisa mengubah tetesan hujan jadi energi listrik.
Tetes air hujan ternyata membawa muatan kecil. Ketika jatuh ke permukaan khusus yang disebut FEP, terjadi proses triboelektrifikasi yang memicu aliran listrik.
Dengan susunan seperti panel surya, alat ini disebut D-TENG dan mampu menghasilkan daya hingga 200 watt per meter persegi—5 kali lebih besar dari teknologi sebelumnya!
“Bayangkan rumahmu bisa menyala bukan cuma dari sinar matahari, tapi juga... hujan,” ujar Prof. Zong Li, kepala tim riset dari Tsinghua Shenzhen.
Meski belum siap untuk skala industri, D-TENG dinilai punya potensi besar untuk pemanenan energi di daerah tropis dan hujan tinggi—seperti Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Tak hanya di laboratorium, industri mobil listrik China juga makin agresif. BYD—pesaing utama Tesla—terus ekspansi pasar Asia, bahkan mengungguli penjualan Tesla di beberapa wilayah.
Sementara itu, pembangkit tenaga surya terapung (floating solar plant) juga mencuri perhatian.
Desainnya yang estetis sekaligus fungsional viral di media sosial, memperlihatkan bagaimana China menggabungkan desain futuristik dan efisiensi energi.
Dengan segudang terobosan ini, China tidak lagi sekadar “pabrik dunia”, melainkan inovator global di bidang energi terbarukan.
Namun, para pakar menyarankan masih diperlukan riset lanjutan sebelum teknologi seperti D-TENG benar-benar menggantikan sumber energi konvensional.
Tapi jika sukses, bukan tidak mungkin kita bisa menyetrika baju sambil hujan-hujanan di masa depan. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama