RADARTUBAN - DeepSeek, sebuah aplikasi kecerdasan buatan asal Tiongkok sempat menjadi perbincangan hangat karena menyalip ChatGPT sebagai aplikasi AI paling populer.
Tetapi kini aplikasi tersebut menghadapi tekanan dari regulator Eropa menyusul DeepSeek yang diketahui mengumpulkan dan menyimpan data pengguna di server yang berada di Tiongkok.
Hal ini memicu kekhawatiran karena undang-undang intelijen di negara tersebut memungkinkan pemerintah Tiongkok untuk mengakses data pengguna tersebut.
DeepSeek sendiri dikembangkan menggunakan sekitar 2.000 GPU Nvidia H800 dengan biaya pelatihanyang jauh lebih kecil dibandingkan OpenAI maupun Google.
Meski begitu, kontroversi DeepSeek muncul karena jawaban dari AI ini dinilai telah disensor oleh pemerintah Tiongkok, terutama dalam isu-isu yang sensitif.
Komisaris perlindungan data Jerman, Meike Kamp, meminta Apple dan Google untuk menghapus DeepSeek dari toko aplikasi mereka.
Hal ini karena DeepSeek dianggap telah melanggar hukum privasi data Uni Eropa dengan mentransfer data pribadi ke Tiongkok.
Selain Jerman, Italia dan Korea Selatan telah terlebih dahulu menghapus DeepSeek dari toko aplikasi lokal mereka.
Sedangkan pemerintah Belanda melarang penggunaan DeepSeek di perangkat resmi.
Menyusul permintaan Komisaris Perlindungan data Jerman, Apple dan Google tengah dalam peninjauan dan saat ini belum ada tindakan yang diambil.
Kekhawatiran serupa juga muncul di Amerika Serikat. Sejumlah anggota parlemen berencana mengajukan UU yang melarang penggunaan AI buatan China oleh badan-badan eksekutif AS.
Undang-undang ini diajukan menyusul laporan yang menyebutkan bahwa AI ini mendukung operasi militer dan intelijen Tiongkok. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama