RADARTUBAN - Universitas Stanford kembali menarik perhatian publik setelah mengumumkan program riset sosial berskala besar terkait dampak penggunaan media sosial.
Dalam studi terbarunya, lembaga pendidikan ternama Amerika Serikat ini menyatakan akan memberikan kompensasi kepada lebih dari 35 ribu pengguna aktif Facebook dan Instagram yang bersedia menghentikan sementara aktivitasnya di kedua platform tersebut.
Langkah ini merupakan bagian dari studi eksperimental untuk mengkaji pengaruh penghapusan akun media sosial terhadap kesehatan emosional pengguna.
Dilansir dari hasil studi yang dirilis pada April lalu, Stanford meneliti pengguna aktif yang rata-rata menghabiskan minimal 15 menit per hari di Facebook atau Instagram.
Tolak ukur utama dalam penelitian ini mencakup tingkat kebahagiaan, depresi, dan kecemasan.
Hasilnya menunjukkan tren positif: berhenti menggunakan media sosial selama periode tertentu terbukti dapat meningkatkan kebahagiaan dan menurunkan gejala kecemasan dan depresi.
Bahkan hasilnya setara dengan 15–22% dari efektivitas terapi psikologi profesional.
Meski hasil awal menunjukkan dampak signifikan, para peneliti juga mengakui adanya kekurangan pada studi ini.
Salah satunya adalah fakta bahwa eksperimen dilakukan bertepatan dengan periode pemilihan presiden Amerika Serikat 2020—sebuah momen yang sarat muatan emosional dan bisa memengaruhi kondisi psikologis para responden secara keseluruhan.
Studi ini menjadi semakin menarik karena Stanford menawarkan insentif finansial kepada puluhan ribu peserta sebagai bagian dari eksperimen ilmiah.
Tujuannya adalah melihat apakah digital detox bisa menjadi solusi jangka pendek untuk mengatasi tekanan mental akibat paparan media sosial yang berlebihan.
Program ini sekaligus menegaskan pentingnya peran akademisi dalam menelaah aspek psikologis dari perkembangan teknologi digital yang kini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni