RADARTUBAN- Di tengah krisis ketenagakerjaan yang semakin memprihatinkan, generasi muda di China mulai mencari cara tak biasa untuk bertahan hidup.
Data resmi pemerintah mencatat tingkat pengangguran usia 16–24 tahun mencapai 15,8 persen pada April 2025, berarti satu dari enam anak muda di Negeri Tirai Bambu tidak memiliki pekerjaan tetap.
Tak ingin terus menganggur di kota besar, banyak anak muda memutuskan pulang kampung dan mengambil peran baru dalam keluarga sebagai “cucu penuh waktu”.
Istilah ini muncul sebagai respons terhadap minimnya lowongan kerja dan tekanan finansial pasca kelulusan universitas.
Profesi “cucu penuh waktu” bukan sekadar tinggal bersama kakek-nenek, tapi mencakup perawatan, pendampingan harian, pengelolaan jadwal medis, hingga dukungan emosional.
Anak-anak muda ini juga membantu lansia tetap aktif secara sosial, mengajak mereka ke kedai teh, jalan-jalan, atau mencoba restoran baru.
Hebatnya, banyak lansia rela memberikan sebagian dana pensiun mereka sebagai kompensasi bulanan, sebagai bentuk penghargaan dan dukungan.
Viral di media sosial, sebuah kisah menyebutkan ada cucu yang menerima bayaran hingga 7.000 yuan (sekitar Rp15–16 juta) per bulan.
Fenomena ini dinilai sebagai hubungan timbal balik yang menguntungkan kedua pihak: anak muda mendapat pemasukan dan arti hidup baru, sementara lansia menikmati masa tua dengan pendampingan hangat yang jauh lebih personal dibanding tenaga profesional.
Meski banyak yang memuji tren ini sebagai bentuk adaptasi yang bermakna secara sosial, tak sedikit pula yang mengkritik.
Mereka menilai bahwa profesi ini hanya bisa dilakukan oleh keluarga yang mapan, karena tidak semua lansia punya dana pensiun besar.
Namun bagi sebagian anak muda, menjadi cucu penuh waktu bukanlah kemunduran.
Justru ini dianggap sebagai cara kreatif untuk melewati masa sulit, sekaligus memperkuat hubungan antargenerasi yang mulai tergerus oleh modernisasi dan urbanisasi.
Fenomena ini juga membuka diskusi baru tentang nilai-nilai keluarga dan alternatif solusi pengangguran di masa digital, ketika pilihan hidup tidak lagi mengikuti pakem tradisional. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni