Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Begini Cara Nestle Cuci Otak Generasi Jepang Demi Jualan Kopi, Dulu Anti Sekarang Pengonsumsi

Tulus Widodo • Rabu, 30 Juli 2025 | 14:49 WIB
Bukan sekadar promosi, Nestlé berhasil tanam memori kopi di Jepang lewat permen dan camilan, ubah budaya konsumsi lintas generasi.
Bukan sekadar promosi, Nestlé berhasil tanam memori kopi di Jepang lewat permen dan camilan, ubah budaya konsumsi lintas generasi.

 

RADARTUBAN – Sulit dipercaya tapi nyata: Jepang, negeri yang dikenal sebagai pecinta teh sejati, kini masuk 4 besar negara dengan konsumsi kopi tertinggi di dunia.

Bukan karena kebetulan, melainkan hasil dari rekayasa psikologis jangka panjang yang dilakukan Nestle—perusahaan raksasa makanan dan minuman asal Swiss.

Yang menarik, strategi ini tidak sekadar soal promosi atau diskon.

Nestlé menggunakan pendekatan psikologi mendalam yang menarget alam bawah sadar dan memori masa kecil generasi Jepang.

Hasilnya? Sebuah perubahan budaya konsumsi yang luar biasa.

Gagal Total di Pasar Jepang, Nestlé Tak Menyerah

Semua bermula pada era 1960-an hingga awal 1970-an. Nestlé, yang sukses besar menjual kopi instan di banyak negara, mencoba masuk ke pasar Jepang.

Tapi realita berkata lain. Produk kopi Nestlé nyaris tak laku. Orang Jepang, yang sangat lekat dengan budaya minum teh, menganggap kopi sebagai sesuatu yang asing, bahkan tidak relevan dengan gaya hidup mereka.

Alih-alih menyerah, Nestlé justru melakukan langkah ekstrem: merekrut seorang psikoanalis asal Prancis bernama Dr. Clotaire Rapaille.

Rapaille bukan pakar marketing biasa. Ia adalah ahli psikologi anak-anak yang paham betul bagaimana memori masa kecil membentuk preferensi konsumsi di masa dewasa.

Dalam wawancaranya bersama PBS, Rapaille mengatakan: “Anak-anak Jepang tidak tumbuh besar dengan kopi. Mereka tumbuh bersama teh—dari rumah, sekolah, sampai budaya pop. Tidak ada tempat bagi kopi di memori masa kecil mereka.”

Solusinya? Tanamkan kopi dalam ingatan anak-anak Jepang sejak dini.

Bukan dalam bentuk minuman, tapi melalui permen rasa kopi dan camilan seperti KitKat rasa kopi yang mulai diedarkan secara terbatas pada tahun 1970–1980.

Membangun Generasi Pecinta Kopi

Nestlé tidak terburu-buru. Mereka tahu, anak-anak yang terbiasa mengonsumsi rasa kopi melalui permen, akan memiliki asosiasi emosional dan memori positif terhadap rasa tersebut.

Ketika generasi ini tumbuh dewasa—sekitar 1990-an awal—Nestlé kembali meluncurkan kampanye kopi besar-besaran. Kali ini, pasarnya sudah siap. Mereka bukan lagi orang-orang dewasa yang asing dengan kopi, melainkan orang dewasa yang punya “memori hangat” tentang rasa kopi sejak kecil.

Boom! Penjualan kopi melonjak. Jepang perlahan-lahan berubah dari “negara anti-kopi” menjadi negara dengan konsumsi kopi tertinggi keempat di dunia, menyalip banyak negara barat yang justru dikenal sebagai penggila kopi.

Lebih dari Sekadar Jualan Kopi: Merubah Budaya

Kisah Nestlé di Jepang ini adalah contoh langka dan ekstrem tentang bagaimana sebuah brand bisa mengubah pola konsumsi sebuah bangsa, bahkan yang sangat lekat dengan tradisi seperti Jepang.

Strategi Nestlé bukan sekadar marketing, tapi rekayasa budaya berbasis psikologi. Mereka tidak hanya menjual produk, tetapi menciptakan pasar dari nol, membentuk ingatan, dan merancang kebiasaan baru yang melekat hingga lintas generasi.

Apa yang dilakukan Nestlé menunjukkan bahwa produk hebat saja tidak cukup. Untuk sukses di pasar yang punya hambatan budaya, pemahaman terhadap psikologi konsumen dan konteks sosial adalah kunci.

Butuh waktu. Butuh kesabaran. Tapi hasilnya? Perubahan budaya yang masif dan loyalitas jangka panjang. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#konsumsi #kopi #jepang #teh #pasar #nestle