RADARTUBAN – Ketika dunia makin bergantung pada internet super cepat untuk menunjang aktivitas harian, dari bisnis digital hingga streaming 4K, sejumlah negara terus berlomba menjadi yang tercepat dalam hal koneksi internet.
Data terbaru dari Speedtest Global Index kembali menyentil banyak negara, termasuk Indonesia, soal kecepatan internet yang masih jauh tertinggal.
Uni Emirat Arab (UAE) kembali memimpin daftar dengan kecepatan internet tertinggi di dunia, mencatat angka mencengangkan: 546,1 Mbps! Tak hanya UAE, dua tetangganya di kawasan Teluk juga menyusul ketat.
Yakni, Qatar yang mencatatkan angka 517,4 Mbps dan Kuwait 378,5 Mbps.
Ini membuktikan satu hal: negara-negara Timur Tengah tak hanya kaya minyak, tapi juga serius berinvestasi di infrastruktur digital.
Daftar Lengkap 10 Negara dengan Internet Tercepat:
1. UAE – 546,1 Mbps
2. Qatar – 517,4 Mbps
3. Kuwait – 378,5 Mbps
4. Bahrain – 236,8 Mbps
5. Brazil – 228,9 Mbps
6. Bulgaria – 224,5 Mbps
7. Korea Selatan – 218,1 Mbps
8. China – 201,7 Mbps
9. Arab Saudi – 198,4 Mbps
10. Denmark – 196,3 Mbps
Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Sayangnya, Indonesia belum mampu menembus jajaran 10 besar.
Bahkan menurut laporan Speedtest Global Index edisi terbaru, kecepatan rata-rata internet di Indonesia masih berada di kisaran 25–30 Mbps (tergantung wilayah).
Ini jauh di bawah standar negara-negara maju maupun tetangga di Asia Tenggara seperti Singapura dan Thailand.
Beberapa faktor yang masih menjadi penghambat percepatan koneksi internet di tanah air antara lain infrastruktur jaringan yang belum merata, terutama di wilayah timur Indonesia dan ketergantungan pada jaringan mobile dibanding fixed broadband.
Selain itu, masih minimnya investasi besar-besaran di sektor telekomunikasi berbasis fiber serta tarif internet murah yang tidak sebanding dengan kualitas yang ditawarkan.
Pemerintah lewat program transformasi digital nasional dan perluasan jaringan 5G terus mendorong peningkatan infrastruktur.
Namun, apakah itu cukup? Untuk bisa mengejar UAE atau Korea Selatan, perlu lebih dari sekadar slogan.
Investasi, kompetisi sehat antar operator, hingga pemerataan jaringan harus jadi prioritas.
So, harapan tetap ada, tapi kerja nyata dan investasi besar jadi kunci agar Indonesia tak terus-terusan jadi penonton di panggung digital dunia. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama