RADARTUBAN - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menghangat usai Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, mengeluarkan pernyataan kontroversial yang menegaskan posisi keras Washington terkait pembentukan negara Palestina.
Dalam wawancara eksklusif dengan Fox News Radio pada Kamis (31/7), Rubio menegaskan bahwa pengakuan negara Palestina oleh negara-negara Barat tak akan berdampak nyata jika tidak mendapat persetujuan dari pihak Israel.
“Tidak satu pun dari negara-negara itu memiliki kemampuan untuk menciptakan negara Palestina. Tidak akan ada negara Palestina kecuali Israel menyetujuinya,” tegas Rubio.
Pernyataan itu sekaligus menjadi penegasan ulang dari sikap pro-Israel yang terus dipegang teguh oleh pemerintahan Presiden Donald Trump di periode keduanya ini.
Dalam wawancaranya, Rubio juga menyindir pengakuan simbolik dari sejumlah negara Eropa seperti Spanyol, Irlandia, dan Norwegia sebagai langkah yang justru kontraproduktif.
“Itu semua tidak relevan. Mereka bahkan tidak bisa menjelaskan di mana negara Palestina itu berada, atau siapa yang akan memerintahnya,” ucap Rubio dengan nada tajam.
Ia menilai pengakuan sepihak tersebut berpotensi memperkeruh jalannya negosiasi dan malah memperkuat legitimasi kelompok-kelompok ekstremis seperti Hamas, yang selama ini dianggap sebagai hambatan utama dalam proses perdamaian.
Pernyataan Rubio datang di tengah desakan komunitas internasional terhadap Israel untuk menghentikan serangan militer intensif di Gaza yang telah menimbulkan ribuan korban jiwa.
Sejumlah negara dan organisasi internasional menyerukan solusi dua negara sebagai jalan damai paling realistis.
Namun, AS di bawah Trump menegaskan bahwa solusi apa pun harus melalui negosiasi langsung antara Israel dan Palestina, bukan melalui pengakuan sepihak oleh pihak ketiga.
Pernyataan tegas Rubio memperkuat anggapan bahwa AS tidak akan bergerak dari garis pro-Israel-nya, bahkan di tengah meningkatnya tekanan global.
Bagi banyak pengamat, posisi ini membuat AS kehilangan kredibilitas sebagai mediator netral di meja perundingan Timur Tengah.
Di sisi lain, pendukung Israel memuji ketegasan Washington dalam membela sekutunya dan menjaga stabilitas kawasan dari pengaruh kelompok militan.
Dengan dinamika terbaru ini, upaya diplomatik untuk mewujudkan perdamaian di Timur Tengah kembali menemui jalan buntu.
Ketegangan meningkat, namun dialog tak kunjung konkret.
Apakah pernyataan Marco Rubio akan menjadi sinyal bahwa Amerika Serikat benar-benar menutup pintu terhadap opsi pengakuan Palestina dari luar?
Ataukah ini hanya bagian dari strategi negosiasi keras Washington untuk menekan pihak Palestina kembali ke meja perundingan?
Waktu yang akan menjawab, namun satu hal jelas: peta politik Timur Tengah belum akan tenang dalam waktu dekat. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni