RADARTUBAN - Perusahaan semikonduktor asal Taiwan, Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) tengah dilanda skandal internal yang cukup serius.
Skandal ini terjadi setelah enam orang ditangkap pihak berwenang karena terkait dugaan pencurian rahasia teknologi chip 2nm milik TSMC.
Para terduga yang ditangkap tersebut terdiri dari mantan karyawan dan karyawan aktif perusahaan yang dituduh mencuri informasi sensitif.
Hingga saat ini TSMC berhasil menguasai pangsa pasar industri chip global hingga 67 persen dengan klien perusahaan besar seperti Apple, NVIDIA, Quallcomm, Mediatek, hingga AMD.
Hanya saja keberhasilan ini sedikit mengalami gangguan karena oknum orang dalam TSMC yang berusaha membocorkan rahasia teknologinya.
Melansir dari Phone Arena, penangkapan terduga dilakukan setelah penggeledahan di rumah terduga pelaku pada akhir bulan Juli lalu.
Selain rumah, kantor Tokyo Electron Ltd. salah satu perusahaan pemasok asal Jepang juga turut digeledah demi mendalami kemungkinan keterlibatan pihak diluar TSMC.
Atas hal ini sejumlah pegawai TSMC yang terlibat skandal tersebut telah di pecat. Perusahaan itu mengaku telah mendeteksi adanya aktivitas mencurigakan melalui pemantauan rutin yang dilakukan oleh tim internal.
Menurut pemerintah Taiwan, kasus TSMC ini dinilai sebagai ancaman serius terhadap keamanan nasional. Hal ini dikarenakan teknologi chip termasuk chip 2nm menjadi sebuah sesuatu yang penting di era sekarang.
Kejaksaan setempat menggunakan UU Keamanan Nasional tahun 2022 untuk menjerat para pelaku. Ini merupakan kasus pertama dalam industri semikonduktor Taiwan yang diproses dibawah payung hukum tersebut.
Perlu diketahui, pemerintah Taiwan sendiri telah menetapkan teknologi chip di bawah 14 nanometer sebagai bagian dari 'Teknologi Inti Kritis Nasional'. Karenanya segala bentuk tindakan melawan hukum akan dianggap sebagai pelanggaran serius di negara tersebut.
TSMC menegaskan bahwa teknologi mereka sangat kompleks dan sulit untuk ditiru oleh para kompetitornya. Kendati begitu, perusahaan akan terus memperkuat sistem keamanan internal mereka demi mencegah kebocoran data kembali terulang di masa depan.
Editor : Yudha Satria Aditama