RADARTUBAN- Pakistan kembali dilanda bencana besar. Hujan deras yang mengguyur sejak Kamis (16/8) memicu banjir bandang, tanah longsor, dan luapan sungai di sejumlah wilayah.
Hingga Minggu (18/8), tercatat sedikitnya 344 orang tewas dan lebih dari 150 lainnya masih hilang.
Provinsi Khyber Pakhtunkhwa menjadi wilayah terdampak paling parah. Sebanyak 317 korban jiwa tercatat di provinsi pegunungan tersebut.
Di distrik Buner, pusat bencana, sebanyak 208 warga meninggal dunia dan 10–12 desa dinyatakan terkubur lumpur serta bebatuan.
“Kami melihat semua rumah, bangunan, dan kendaraan tersapu seperti potongan kayu,” ujar Suleman Khan, warga Buner yang kehilangan 25 anggota keluarganya.
Sebanyak 2.000 personel penyelamat telah dikerahkan ke sembilan distrik terdampak, termasuk Bajaur, Swat, Shangla, Mansehra, dan Battagram.
Namun, proses evakuasi berjalan lambat akibat jalanan yang terputus, tertutup lumpur, serta hujan yang belum reda.
Pemerintah Pakistan telah menetapkan enam distrik sebagai zona bencana dan mengumumkan masa darurat.
Warga mendesak agar alat berat segera dikirim untuk membantu evakuasi korban yang masih tertimbun.
“Puluhan jenazah masih terkubur di bawah reruntuhan, yang hanya dapat dievakuasi dengan alat berat,” kata Nisar Ahmad, relawan di Buner.
Otoritas Penanggulangan Bencana Nasional Pakistan memperingatkan bahwa hujan lebat diperkirakan masih akan turun hingga awal September.
Fenomena cloudburst—curah hujan ekstrem dalam waktu singkat—disebut sebagai pemicu utama banjir di Buner, dengan lebih dari 150 mm hujan turun hanya dalam satu jam.
Perubahan iklim disebut telah menggeser pola hujan tahunan dan memperparah skala banjir di wilayah yang sebelumnya relatif aman. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni