RADARTUBAN - Pekerjaan di bidang administratif, seperti entri data, teller bank, hingga asisten administrasi, diprediksi menjadi kelompok paling rentan tergantikan oleh kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi pada tahun-tahun mendatang.
Laporan Future of Jobs 2025 dari World Economic Forum (WEF) mencatat, posisi-posisi administratif diperkirakan mengalami penurunan signifikan hingga 2030.
Dalam laporan tersebut, beberapa jenis pekerjaan yang paling terdampak antara lain petugas pos yang diprediksi menurun hingga 40 persen.
Berikutnya, teller bank turun 35 persen, petugas entri data 34 persen, asisten administrasi 34 persen, serta sekretaris eksekutif dan administratif sebesar 33 persen.
Survei ini melibatkan 1.043 perusahaan di seluruh dunia yang mewakili lebih dari 14 juta pekerja.
WEF memperkirakan, perkembangan teknologi dapat menghilangkan sekitar 92 juta pekerjaan. Namun, di sisi lain juga berpotensi menciptakan 170 juta jenis pekerjaan baru.
Dengan demikian, secara bersih akan ada penambahan sekitar 78 juta lapangan kerja, atau naik tujuh persen dari jumlah saat ini. Meski demikian, pergeseran ini menuntut pekerja untuk lebih cepat beradaptasi.
Seiring berkembangnya AI, muncul pertanyaan mengenai siapa yang lebih terancam, pekerja pemula atau senior.
Pekerja pemula umumnya mengisi posisi administratif dasar yang cenderung repetitif dan mudah diotomatisasi, sehingga berada pada level paling rentan.
Sementara itu, pekerja senior dengan pengalaman dan kemampuan manajerial relatif lebih sulit digantikan karena mengandalkan keterampilan strategis dan interpersonal.
Selain itu, WEF juga memproyeksikan bahwa 40 persen keterampilan yang ada saat ini akan menjadi usang pada tahun 2030.
Sebagai gantinya, kebutuhan akan keterampilan baru semakin mendesak, terutama analytical thinking, literasi teknologi, keamanan siber, serta penguasaan AI dan big data.
Hal ini menuntut perusahaan dan pekerja untuk sama-sama melakukan penyesuaian.
Tanggung jawab adaptasi tidak hanya berada di pundak pekerja. Sekitar 85 persen perusahaan menyatakan berencana memprioritaskan pelatihan ulang atau reskilling untuk meningkatkan kemampuan tenaga kerja.
Namun, sekitar 40 persen perusahaan juga mengaku tetap akan mengurangi jumlah staf pada posisi-posisi yang bisa digantikan AI.
Dengan kondisi ini, pekerja di level pemula menjadi pihak yang paling terancam dalam jangka pendek.
Namun, bukan berarti pekerja senior terbebas dari risiko. Perubahan lanskap dunia kerja akibat AI menegaskan pentingnya peningkatan keterampilan secara berkelanjutan agar semua level pekerja tetap relevan di era digital. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama