RADARTUBAN – Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, pada Senin (13/10), menegaskan bahwa Teheran tidak akan menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perdamaian Gaza yang digelar di Sharm el-Sheikh, Mesir.
KTT tersebut dihadiri oleh lebih dari 20 pemimpin dunia dan membahas upaya penghentian perang serta penyelesaian konflik di Gaza.
Dalam pernyataannya, Araghchi menjelaskan bahwa meski Iran mendukung setiap langkah diplomatik untuk menghentikan kekerasan di Gaza, pihaknya tidak dapat duduk bersama dengan negara-negara yang telah menjatuhkan sanksi dan melakukan serangan terhadap Iran.
“Meski kami menghormati inisiatif perdamaian, baik Presiden Pezeshkian maupun saya tidak bisa berinteraksi dengan mitra yang telah menyerang rakyat Iran dan terus mengancam kami,” tulis Araghchi di platform X.
Ia menegaskan, Iran menyambut baik setiap upaya yang bertujuan menghentikan apa yang disebutnya sebagai “genosida” oleh Israel terhadap rakyat Palestina, sekaligus menyerukan penarikan penuh pasukan pendudukan Israel dari wilayah Gaza.
Menurut Araghchi, rakyat Palestina memiliki hak penuh untuk menentukan nasib sendiri, dan seluruh negara di dunia memiliki tanggung jawab moral serta hukum untuk mendukung perjuangan tersebut.
“Iran sejak lama menjadi kekuatan penting bagi perdamaian kawasan. Berbeda dengan Israel, kami tidak mencari perang tanpa akhir, melainkan mengedepankan perdamaian, kemakmuran, dan kerja sama yang berkelanjutan,” ujarnya.
Keputusan Iran untuk menolak hadir di KTT ini menunjukkan posisi tegas Teheran dalam isu Palestina sekaligus ketidakpercayaannya terhadap proses diplomatik yang dipimpin oleh negara-negara Barat yang selama ini dianggap memusuhi Iran.
KTT Sharm el-Sheikh sendiri diharapkan dapat menghasilkan langkah konkret menuju gencatan senjata dan bantuan kemanusiaan di Gaza, meskipun absennya Iran dipandang sebagai tantangan besar bagi terciptanya kesepakatan damai yang inklusif. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni