RADARTUBAN - CEO Apple, Tim Cook, menegaskan komitmen perusahaan untuk terus menambah investasi di Tiongkok meskipun ketegangan perdagangan antara Tiongkok dan Amerika Serikat masih berlangsung.
Pernyataan ini disampaikan dalam pertemuan Tim Cook dengan Menteri Perindustrian dan Teknologi Informasi China, Li Lecheng, di Beijing, Rabu (15/10).
Menurut pernyataan resmi pemerintah China, Tim Cook menegaskan bahwa Apple akan terus memperkuat kerja sama dengan mitra lokal serta menjajaki peluang baru di pasar China yang memiliki potensi luar biasa karena ukuran pasar yang besar dan sistem industri yang lengkap.
Secara khusus, Apple berharap dapat berkontribusi dalam industrialisasi baru Tiongkok dengan berkolaborasi bersama perusahaan-perusahaan lokal dalam rantai seluruh industri demi pembangunan yang didorong oleh inovasi.
Namun, pemerintah China maupun Apple belum mengungkapkan secara rinci nilai investasi yang akan ditanamkan.
Menteri Li Lecheng menambahkan bahwa pemerintah Tiongkok terus menciptakan iklim usaha yang menguntungkan bagi perusahaan asing, termasuk Apple, dengan mendorong keterbukaan dan penerapan teknologi pintar untuk mentransformasikan industri yang cerdas.
Dia berharap kehadiran Apple di China dapat terus mendominasi dan tumbuh bersama pemasok lokal.
Meski berada di tengah ketegangan dagang antara dua negara Adidaya, Apple jarak ini relatif tak terdampak langsung oleh sanksi dan penyelidikan yang menimpa perusahaan teknologi Amerika lain seperti Nvidia dan Qualcomm.
Apple masih sangat bergantung pada rantai pasok dan fasilitas produksi di China, di mana sebagian besar perangkat iPhone dirakit, meskipun beberapa kapasitas produksi mulai dialihkan ke India.
Kunjungan Tim Cook kali ini juga meliputi pertemuan dengan pengembang gim lokal dan pemasok komponen Apple seperti Lens Technology di Changsha.
Di Amerika Serikat, Apple juga berkomitmen untuk menambah investasi manufaktur domestik dengan janji investasi tambahan sebesar ratusan miliar dolar.
Langkah Apple ini menunjukkan posisi perusahaan dalam menyeimbangkan kepentingan bisnis antara dua pasar terbesar secara global, Amerika Serikat dan China, di tengah dinamika geopolitik dan ekonomi saat ini. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama