RADARTUBAN – Koleksi perhiasan kerajaan yang dicuri dari Museum Louvre, Paris, diperkirakan bernilai lebih dari US$ 100 juta atau sekitar Rp 1,6 triliun.
Aksi perampokan yang terjadi pada siang hari pekan lalu itu mengejutkan publik dan memunculkan kritik tajam terhadap lemahnya sistem keamanan museum terbesar di dunia tersebut.
Aksi Cepat, Hanya Tujuh Menit
Menurut laporan jaksa penuntut umum Paris, Laure Beccuau, perampokan dilakukan oleh empat pria bertopeng yang menggunakan derek untuk memecahkan jendela di lantai atas Galeri Apollo, tempat penyimpanan permata mahkota Prancis.
Aksi mereka berlangsung sekitar tujuh menit, sebelum kabur dengan sepeda motor yang telah disiapkan di luar gedung.
Beccuau menyebut nilai kerugian bukan hanya dari sisi materi.
“Kerugian ini tentu besar secara ekonomi, namun jauh lebih signifikan dari sisi nilai historis,” ujarnya dalam wawancara dengan Al Jazeera, Selasa.
Koleksi Bersejarah yang Raib
Barang yang dicuri terdiri dari delapan koleksi berharga, termasuk tiara dan anting milik Ratu Marie-Amélie serta Ratu Hortense dari awal abad ke-19.
Salah satu mahkota Permaisuri Eugenie ditemukan di luar museum, diduga terjatuh saat pelaku melarikan diri.
Kurator Louvre memperkirakan total kerugian mencapai 88 juta euro atau sekitar US$ 102 juta.
Kritik Terhadap Keamanan Louvre
Kasus ini menimbulkan gelombang kemarahan publik. Banyak pihak menilai kejadian ini mencerminkan rapuhnya sistem keamanan Louvre yang menyimpan ribuan artefak penting dunia.
Direktur Louvre, Laurence des Cars, dijadwalkan menghadiri sidang komite budaya Senat Prancis pada Rabu.
Ia sebelumnya telah memperingatkan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, bahwa Louvre membutuhkan renovasi besar-besaran karena fasilitasnya sudah usang.
Pelaku Diduga Lintas Negara
Otoritas Prancis melaporkan telah menahan seorang perempuan asal Cina berusia 24 tahun di Barcelona, Spanyol, yang diduga terlibat dalam pencurian tersebut.
Ia ditangkap saat mencoba membuang hampir satu kilogram kepingan emas cair.
Polisi masih memburu tiga tersangka lainnya yang diyakini melarikan diri ke luar negeri.
Laporan: Keamanan Louvre Terlambat Diperbarui
Pengadilan Auditor Prancis mencatat bahwa peningkatan keamanan Louvre kerap tertunda.
Dalam laporan periode 2019–2024, hanya seperempat area museum yang dilengkapi kamera pengintai aktif.
Serikat pekerja Louvre juga menyoroti berkurangnya jumlah staf keamanan, padahal jumlah pengunjung terus meningkat.
Tahun lalu, Louvre menerima 8,7 juta pengunjung, menjadikannya museum paling ramai di dunia.
Respons Pemerintah Prancis
Menteri Kebudayaan Rachida Dati menegaskan bahwa sistem keamanan museum sebenarnya berfungsi dengan baik.
“Peralatan keamanan beroperasi normal, jadi ini bukan soal kelalaian aparat,” ujarnya.
Sementara Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez menyebut alarm museum sempat berbunyi sesaat setelah jendela Galeri Apollo didobrak.
Polisi tiba dalam waktu dua hingga tiga menit, namun aksi pencurian sudah selesai dalam waktu kurang dari delapan menit.
Museum Louvre ditutup selama dua hari untuk kepentingan penyelidikan dan dijadwalkan dibuka kembali. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni