RADARTUBAN - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan akan menyambut Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa di Gedung Putih pada hari Senin, (10/11).
Pertemuan ini menjadi kunjungan pertama seorang pemimpin Suriah ke Gedung Putih dalam sejarah hubungan kedua negara, yang telah lebih dari 80 tahun tidak terjadi.
Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa pertemuan ini merupakan bagian dari inisiatif Presiden Trump untuk mendorong perdamaian di tingkat global.
Kunjungan al-Sharaa ini juga menandai perubahan signifikan dalam hubungan AS-Suriah setelah Donald Trump mencabut sanksi ekonomi Amerika Serikat terhadap Suriah saat kunjungannya ke kawasan Timur Tengah pada Mei 2025.
Langkah ini ditujukan untuk memberikan kesempatan nyata kepada Suriah membangun kembali stabilitas setelah bertahun-tahun konflik.
Menurut Leavitt, pemerintahan AS melihat kemajuan yang signifikan di bawah kepemimpinan baru Suriah.
Dalam pertemuan di Gedung Putih nanti, pembahasan diperkirakan akan meliputi pencabutan sanksi lebih lanjut serta kerja sama dalam memerangi terorisme, khususnya dalam koalisi global melawan kelompok ISIS.
Trump dan al-Sharaa sebelumnya pernah bertemu di Arab Saudi pada Mei 2025, pertemuan pertama antara kedua pemimpin dalam 25 tahun terakhir, yang juga menjadi titik awal normalisasi hubungan diplomatik kedua negara.
Kunjungan tersebut akan menjadi momentum penting dalam upaya Amerika Serikat mendorong stabilitas di Timur Tengah pasca kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas.
Dengan kunjungan ini, Suriah berusaha keluar dari izolasi internasional panjang yang berlangsung selama lebih dari setengah abad di bawah rezim Assad, dan menegaskan komitmennya untuk bergabung dalam koalisi internasional pimpinan AS melawan terorisme. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni