Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Negara Ini Gelap Gulita, Pemadaman Listrik Meningkat Akibat Impor Minyak Merosot Tajam

M Robit Bilhaq • Jumat, 21 November 2025 | 13:10 WIB
Ilustrasi krisis minyak.
Ilustrasi krisis minyak.

RADARTUBAN - Kuba kembali menghadapi krisis energi yang semakin serius setelah pasokan minyak dari sekutu utamanya.

Yaitu Meksiko dan Venezuela, yang mengalami penurunan tajam sepanjang tahun 2025.

Penurunan impor ini berdampak langsung pada kehidupan masyarakat, terutama di ibu kota Havana, yang kini mengalami pemadaman listrik harian lebih lama dan lebih parah.

Data pengiriman yang dikutip Reuters pada Kamis (20/11) menunjukkan bahwa impor minyak mentah dan bahan bakar Kuba sepanjang Januari hingga Oktober turun 35 persen.

Menjadi sekitar 45.400 barel per hari. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 69.400 barel per hari.

Penurunan paling drastis terjadi pada pasokan dari Meksiko.

Negara tersebut hanya mengirim sekitar 5.000 barel per hari, anjlok 73 persen dari 18.800 barel per hari pada tahun sebelumnya.

Sementara itu, Venezuela, sekutu politik terpenting Kuba, memangkas ekspor hampir 15 persen menjadi 27.400 barel per hari.

Kekurangan pasokan terutama terjadi pada produk bahan bakar minyak yang digunakan untuk pembangkit listrik.

Dampaknya terasa nyata di lapangan, serikat pekerja listrik Kuba menjelaskan bahwa dampak dari krisis tersebut, hampir 900 megawatt kapasitas pembangkit setara dengan sepertiga kebutuhan nasional tidak beroperasi akibat minimnya bahan bakar dan pelumas.

Di Havana sendiri pemadaman listrik tak terjadwal bisa berlangsung hingga sembilan jam per hari, sedangkan di provinsi terpencil, warga hanya menikmati listrik dua hingga empat jam setiap harinya.

“Situasi pemadaman listrik ini sangat buruk,” ujar Daniela Castillo, seorang mahasiswa berusia 18 tahun, yang menyampaikan keluhanya.

Daniela menuturkan bahwa sering kali ia dan keluarganya harus menunggu listrik menyala agar bisa makan maupun belajar.

Penurunan pasokan yang terjadi tersebut dipicu oleh keterbatasan produksi di kedua negara pemasok utama.

Produksi minyak Pemex di Meksiko turun hampir 9 persen menjadi 1,63 juta barel per hari, sementara ekspor minyak mentahnya merosot 23 persen menjadi 604.000 barel per hari.

Di Venezuela, kebijakan sanksi Amerika Serikat membuat perusahaan minyak PDVSA lebih banyak memasok ke kilang domestik, sehingga ekspor ke Kuba ikut terpangkas.

Selain masalah yang telah disebutkan tersebut, keterbatasan jumlah kapal tanker yang memadai juga menghambat arus pengiriman jangka panjang ke Kuba.

Rusia, yang sebelumnya kerap membantu dalam krisis energi, tahun ini hanya mengirim beberapa kargo minyak Ural, jumlah tersebut dinilai tidak mencukupi untuk menutup defisit pasokan yang semakin melebar.

Dengan kondisi tersebut, Kuba kembali terjebak dalam krisis energi yang menekan aktivitas ekonomi.

Sekaligus kualitas hidup masyarakat, ketergantungan pada sekutu dan keterbatasan sumber energi domestik membuat negara tersebut sulit keluar dari lingkaran masalah energi yang berulang. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#kuba #krisis #minyak #havana #ibu kota #pemadaman listrik