RADARTUBAN - Baru-baru ini, setelah membuka batu berusia purba para ilmuwan dan terkejut dengan apa yang mereka temukan di dalamnya.
Sebuah mikro organisme berhasil diidentifikasi dalam batu yang diperkirakan berumur lebih dari 2 miliar tahun.
Penemuan ini diyakini dapat mengubah cara pandang manusia terhadap proses evolusi kehidupan di Bumi.
Menurut laporan dari Futurism yang mengutip artikel dalam jurnal Microbial Ecology, tim peneliti menemukan adanya mikroba yang masih hidup di dalam batu kuno tersebut.
Dalam pernyataan resminya, mereka menegaskan bahwa mikroba yang ditemukan tersebut adalah bentuk kehidupan yang ditemukan pada batu tertua sejauh ini.
“Kami sebelumnya tidak mengetahui bahwa batu berusia 2 miliar tahun bisa menjadi tempat tinggal organisme," jelas Yohey Suzuki, peneliti dari Graduate School of Science, University of Tokyo, pada Sabtu (22/11).
Hingga saat ini, lapisan geologi tertua yang diketahui mengandung mikro organisme hidup berusia sekitar 100 juta tahun dan berada di bawah dasar laut, oleh karena itu, penemuan ini dinilai sangat luar biasa.
Secara umum, teori yang diterima luas menyebutkan bahwa kehidupan pertama kali muncul di Bumi sekitar 3,5 miliar tahun lalu.
Sementara manusia baru hadir ratusan ribu tahun silam, penemuan mikroba dalam batu berusia miliaran tahun membuka peluang besar untuk meneliti ekosistem serta proses evolusi biologi pada masa lampau.
Dalam laporan penelitian, para ilmuwan menyatakan bahwa mikroba tersebut adalah organisme “asli” dari batu kuno yang terbentuk dan berevolusi dengan sangat lambat.
Hal tersebut berarti penelitian lebih lanjut terhadap mikroba tersebut dapat memberikan wawasan baru mengenai genetika.
“Dengan mempelajari DNA dan genom mikroba seperti ini, kita bisa memahami evolusi pada masa-masa awal kehidupan di Bumi,” tambah Suzuki.
Batu yang menjadi objek penelitian diambil dari Afrika Selatan melalui metode pengeboran ultra dalam.
Koalisi peneliti internasional meyakini bahwa studi mengenai mikroba dalam batu kuno juga akan berpengaruh terhadap pencarian kehidupan di luar Bumi.
Misalnya, saat ini NASA mengoperasikan robot Perseverance di Mars yang salah satu misinya adalah mengumpulkan sampel fisik untuk dibawa ke Bumi.
Para peneliti memperkirakan bahwa sampel dari Mars memiliki usia yang sebanding dengan batu yang dibor di Afrika Selatan.
“Menemukan mikroba berusia 2 miliar tahun di Bumi dan memastikan keasliannya membuat saya bersemangat. Saya ingin tahu apa yang bisa kita temukan dari sampel Mars,” ujar Suzuki. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama