Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Hubungan Memanas, PM Takaichi dan Li Qiang Tunjukkan Sikap Cuek Tanpa Tegur Sapa di KTT G20 Afrika Selatan

Ika Nur Jannah • Rabu, 26 November 2025 | 17:05 WIB
Kolase foto Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dan Perdana Menteri China Li Qiang
Kolase foto Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dan Perdana Menteri China Li Qiang

RADARTUBAN – Suasana dingin tampak mewarnai Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Afrika Selatan pada 22–23 November 2025.

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dan Perdana Menteri China Li Qiang hadir dalam agenda foto bersama, namun keduanya tidak saling menyapa atau melakukan komunikasi sepanjang perhelatan tersebut.

Tak Ada Tegur Sapa dan Pertemuan Bilateral

Kedua pemimpin tampak menjaga jarak meski berada dalam forum yang sama. Tidak ada percakapan maupun agenda bilateral antara Tokyo dan Beijing selama KTT berlangsung.

Sikap diam ini terjadi di tengah hubungan yang semakin memburuk, terutama setelah pernyataan Takaichi terkait kemungkinan keterlibatan militer Jepang jika China menyerang Taiwan.

Jepang Tegaskan Tak Ada Agenda Bertemu China

Takaichi menegaskan bahwa tidak ada rencana pertemuan khusus dengan Li Qiang selama KTT.

Meski begitu, ia menilai Jepang tetap berkomitmen membangun hubungan yang stabil, konstruktif, dan saling menguntungkan dengan China.

Ia juga menegaskan bahwa negaranya masih membuka ruang dialog di berbagai tingkatan, meskipun tensi kedua negara sedang meningkat.

China Anggap Pernyataan Jepang sebagai ‘Garis Merah’

Sementara itu, pemerintah China memandang pernyataan Takaichi sebagai sinyal negatif.

Beijing menyebut sikap Jepang tersebut telah melewati batas yang tidak seharusnya dilakukan, terutama terkait isu Taiwan yang menjadi garis merah bagi Tiongkok.

Sebelumnya, China juga telah mengeluarkan peringatan perjalanan ke Jepang dan membatasi impor sejumlah komoditas dari Negeri Sakura, yang semakin memperuncing hubungan kedua negara.

Akar Ketegangan: Pernyataan soal Taiwan

Ketegangan memanas setelah Sanae Takaichi pada awal November 2025 menyatakan bahwa Jepang bisa memberikan respons militer jika China melancarkan serangan ke Taiwan.

Pernyataan itu langsung ditolak keras oleh Beijing yang menilai tindakan tersebut sebagai bentuk campur tangan dan ancaman terhadap stabilitas regional.

Menlu China, Wang Yi, menyebut pernyataan itu sebagai sinyal keliru yang dapat memicu ketidakstabilan kawasan.

Baca Juga: Viral Warga China Puji Bandara Indonesia Kini Tak Lagi Ada Pungli

Tokyo Tetap Jaga Sikap, Buka Ruang Dialog

Usai KTT G20, Takaichi kembali menegaskan komitmen Jepang untuk mempertahankan hubungan yang saling menguntungkan, meski mengakui adanya sejumlah perbedaan mendasar antara kedua negara.

Ia menyatakan Jepang siap berdialog kapan pun, tetapi untuk saat ini, kontak langsung dengan Li Qiang belum menjadi prioritas.

Sikap ini mencerminkan pendekatan Jepang yang tegas namun tetap berhati-hati dalam menjaga posisi strategisnya di Asia Timur tanpa memperburuk ketegangan saat berada dalam forum global. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Li Qiang #KTT G20 Afrika Selatan #ktt g20 #perdana menteri jepang #sanae takaichi #Perdana Menteri China