RADARTUBAN - Setiap kali Palestina diperingati dalam forum internasional.
Entah lewat Hari Solidaritas Internasional atau momentum lain, dunia seakan diingatkan kembali pada luka lama yang belum sembuh.
Palestina bukan sekadar nama wilayah, melainkan simbol perjuangan panjang sebuah bangsa yang hak-haknya belum sepenuhnya diakui.
Peringatan itu menjadi semacam pengingat bahwa ada satu bangsa yang masih menunggu keadilan.
Bahwa di tengah hiruk pikuk dunia modern, ada cerita yang belum selesai, ada janji yang belum ditepati.
Keadilan yang Masih Tertunda
Sejak Resolusi 181 PBB tahun 1947 yang merekomendasikan pembagian Palestina menjadi dua negara—satu Arab dan satu Yahudi—konflik panjang tak pernah benar-benar berhenti.
Resolusi itu dimaksudkan sebagai jalan keluar, namun justru membuka babak baru ketegangan yang hingga kini belum terselesaikan.
Biasanya, Hari Solidaritas Internasional untuk Palestina diperingati setiap tanggal 29 November, tepat untuk menandai ulang tahun resolusi tersebut.
Bagi rakyat Palestina, tanggal ini bukan sekadar catatan sejarah, melainkan simbol keadilan yang masih tertunda.
Keadilan terasa tertunda karena resolusi demi resolusi sering berhenti di atas kertas.
Dukungan internasional ada, tapi implementasi nyata sering kali lemah.
Palestina tetap menjadi simbol betapa sulitnya mewujudkan keadilan dalam politik global.
Solidaritas dan Harapan
Meski keadilan belum sepenuhnya hadir, solidaritas dunia terhadap Palestina tidak pernah padam.
Setiap peringatan adalah bentuk dukungan moral, pengingat bahwa perjuangan mereka bukan perjuangan yang dilupakan.
Solidaritas ini penting, karena ia menjaga harapan.
Harapan bahwa suatu hari, rakyat Palestina bisa menikmati hak-hak dasar mereka: hidup aman, bebas, dan merdeka di tanah sendiri.
Ketika Palestina diperingati, kita sebenarnya sedang menyoal keadilan yang masih tertunda.
Peringatan itu bukan sekadar seremoni, melainkan ajakan untuk terus peduli.
Karena keadilan bukan hadiah, melainkan hak yang harus diperjuangkan.
Palestina adalah cermin dunia: bahwa di balik kemajuan teknologi dan globalisasi, masih ada bangsa yang menunggu janji keadilan ditepati.
Dan selama itu belum terwujud, setiap 29 November akan selalu menjadi pengingat bahwa perjuangan belum selesai. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama