Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Dramatis, Empat Mantan Presiden Peru Kini Dipenjara Bersamaan Setelah Serangkaian Vonis Terkait Korupsi dan Kudeta

M Robit Bilhaq • Sabtu, 29 November 2025 | 16:56 WIB
ilustrasi seorang mantan presiden yang dijatuhi hukuman
ilustrasi seorang mantan presiden yang dijatuhi hukuman

RADARTUBAN – Gejolak politik Peru kembali memanas. Mantan Presiden Pedro Castillo akhirnya dijatuhi hukuman lebih dari 11 tahun penjara oleh Mahkamah Agung Peru setelah upayanya membubarkan Kongres pada akhir 2022 dinyatakan sebagai tindakan inkonstitusional.

Putusan ini menambah daftar panjang mantan presiden Peru yang kini mendekam di balik jeruji—total menjadi empat orang.

Castillo: Dari Guru Pedesaan ke Istana, Berakhir di Penjara

Pedro Castillo sebelumnya dikenal sebagai presiden pertama Peru dari kalangan masyarakat miskin.

Latar belakangnya sebagai guru pedesaan tanpa pengalaman politik sempat membawa harapan baru bagi rakyat kecil.

Namun masa jabatannya yang hanya berlangsung 16 bulan diwarnai konflik berkepanjangan dengan Kongres yang dikuasai oposisi.

Castillo digulingkan pada Desember 2022 setelah langkahnya membubarkan Kongres dan memerintah lewat dekret dianggap sebagai manuver untuk menghindari pemakzulan.

Ironisnya, vonis terhadap Castillo dijatuhkan hanya sehari setelah mantan presiden kiri lainnya, Martin Vizcarra, dihukum 14 tahun penjara atas kasus suap ketika masih menjabat sebagai gubernur.

Upaya Kudeta yang Berujung Pidana

Dalam sidang yang berjalan cukup panjang, Mahkamah Agung menyatakan Castillo bersalah atas dakwaan “konspirasi untuk melakukan pemberontakan” terhadap tatanan konstitusi Peru.

Ia dibebaskan dari beberapa tuduhan lain seperti penyalahgunaan kekuasaan, namun tetap dijatuhi hukuman 11 tahun 5 bulan 15 hari—lebih ringan dari tuntutan jaksa yang mencapai 34 tahun.

Castillo sempat mencoba melarikan diri menuju Kedutaan Besar Meksiko bersama keluarganya untuk mencari suaka sebelum akhirnya ditangkap.

Pemerintah Meksiko kemudian memberikan suaka kepada istri dan dua anak Castillo yang kini tinggal di pengasingan.

Puluhan pendukungnya berkumpul di depan penjara saat putusan dibacakan. “Dia tidak mencuri apa-apa. Presiden kami tidak bersalah,” ujar Julia Buendia, pendukung setia Castillo.

Mantan Perdana Menteri Juga Terseret

Tak hanya Castillo, mantan Perdana Menteri Betssy Chavez turut dijatuhi hukuman 11,5 tahun atas perannya dalam percobaan pembubaran Kongres.

Sebelum persidangannya selesai, ia menerima suaka dari Kedutaan Besar Meksiko, memicu ketegangan diplomatik.

Pemerintah Peru bahkan sempat mengancam akan mengirim polisi untuk menangkap Chavez jika diperlukan.

Ketegangan itu membuat Peru resmi memutus hubungan diplomatik dengan Meksiko.

Demonstrasi Berdarah di Tengah Krisis Politik

Penangkapan Castillo memicu demonstrasi besar di wilayah pedesaan dan kalangan pekerja—basis terbesar pendukungnya.

Bentrokan yang terjadi ditindak tegas oleh aparat dan menyebabkan sedikitnya 50 orang tewas.

Pengganti Castillo, Dina Boluarte, menghadapi gelombang penolakan publik dan hanya bertahan 22 bulan sebelum dimakzulkan pada Oktober. Ia kemudian digantikan oleh Jose Jeri, mantan ketua Kongres.

Krisis Politik Tak Berujung

Kisruh politik di Peru seolah tak menemukan titik akhir. Sejak 2016, negara itu telah memiliki tujuh presiden.

Tiga di antaranya dilengserkan oleh Kongres, dua memilih mundur untuk menghindari pemakzulan, dan hanya satu yang berhasil menyelesaikan masa jabatannya.

Situasi ini semakin menegaskan bahwa Peru tengah berada dalam krisis politik berkepanjangan yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Politik #mantan presiden peru #peru #penjara #Pedro Castillo #Korupsi