RADARTUBAN – Presiden Rusia Vladimir Putin tiba di New Delhi, India, Kamis (4/12), untuk kunjungan resmi dua hari.
Lawatan ini berlangsung di tengah meningkatnya tekanan Amerika Serikat terhadap India yang terus mengimpor minyak Rusia dalam jumlah besar sejak perang Ukraina meletus.
Kunjungan tersebut merupakan undangan langsung Perdana Menteri India Narendra Modi dan menjadi bagian dari Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) India–Rusia ke-23.
Baca Juga: Negara Ini Gelap Gulita, Pemadaman Listrik Meningkat Akibat Impor Minyak Merosot Tajam
Pertemuan ini kembali menegaskan eratnya hubungan kedua negara yang telah terbangun selama puluhan tahun.
Fokus Perundingan: Rudal S-400 hingga Mekanisme Pembayaran Baru
Dalam pertemuan Modi–Putin, isu pertahanan menjadi agenda utama.
India dikabarkan ingin memperluas kerja sama sistem pertahanan, termasuk kelanjutan pasokan rudal S-400 dan peningkatan produksi bersama persenjataan strategis.
Selain itu, kedua pemimpin mendiskusikan skema pembayaran alternatif untuk perdagangan bilateral guna menghindari tekanan sanksi dari Amerika Serikat dan negara Barat.
Mekanisme ini penting mengingat India masih menjadi salah satu pembeli terbesar minyak Rusia sejak 2022.
Penghematan miliaran dolar dari minyak diskon Rusia membuat AS menerapkan tarif hingga 50 persen terhadap sejumlah produk India sejak Agustus lalu dengan alasan India turut mendukung pendanaan perang Moskow.
Pesan Otonomi Strategis India dan Rusia
Kunjungan Putin tidak hanya mengedepankan kerja sama ekonomi, tetapi juga menghadirkan pesan geopolitik yang jelas.
Rusia ingin menunjukkan bahwa pengaruhnya di Asia masih kuat meski dihimpit sanksi global, sementara India menegaskan posisinya sebagai kekuatan besar yang bebas menentukan arah kebijakan luar negeri.
Rajan Kumar, analis dari Universitas Jawaharlal Nehru, menyebut langkah ini sebagai respons India atas tekanan keras Washington.
Situasi serupa, katanya, pernah muncul pada masa pemerintahan Donald Trump sebelumnya.
Sementara itu, Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov menekankan pentingnya melindungi perdagangan bilateral dari “gangguan eksternal”, menyusul mulai meningkatnya diversifikasi impor minyak India akibat sanksi putaran terbaru dari AS.
Dinamika Geopolitik Baru di Asia
India memilih untuk tidak terpancing provokasi negara-negara Barat. Pemerintah Modi menyebut hubungan India–Rusia sebagai “salah satu yang paling stabil di era modern”, sekaligus menyeimbangkan kepentingan dengan terus menjalin kontrak senjata bernilai miliaran dolar dengan perusahaan Amerika, termasuk General Electric (GE).
Para analis menilai kehadiran Putin di New Delhi menegaskan posisi India yang semakin berani berperan sebagai kekuatan global multipolar—negara yang tidak sepenuhnya berpihak pada kubu Barat maupun Rusia.
Gestur Hangat Modi untuk Putin
Narendra Modi bahkan menyambut Putin langsung di bandara, sebuah gestur langka yang menandakan tingginya penghormatan India.
Langkah ini sekaligus memberi sinyal bahwa New Delhi tidak gentar dengan tekanan Washington agar menghentikan pembelian minyak Rusia yang dijual dengan harga miring.
Kunjungan ini menjadi penegasan bahwa India tetap menjaga kemitraan strategisnya dengan Moskow, sambil memainkan diplomasi seimbang di tengah pertarungan pengaruh antara Amerika Serikat dan Rusia. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni