RADARTUBAN - Setelah membatalkan kewajiban menyertakan aplikasi keamanan Sanchar Saathi, India kembali memicu perdebatan publik baru yang masih berada di ranah yang sama, yakni teknologi.
Melansir dari berbagai sumber, negara yang terkenal karena industri film Bollywood tersebut tengah meninjau proposal yang mewajibkan seluruh smartphone di negara itu untuk mengaktifkan pelacakan lokasi satelit atau A-GPS secara terus menerus.
Proposal ini memincu kontroversi karena pelacakan aman berlangsung secara permanen tanpa adanya opsi untuk dimatikan.
Usulan ini diajukan oleh Asosiasi Operator Seluler India (COAI) dengan tujuan untuk meningkatkan akurasi data lokasi terkait dengan penyelidikan hukum.
Pasalnya, selama ini aparat penegak hukum di Indoa hanya mengandalkan data lokasi dari menara seluler yang dianggap kurang presisi dan sering meleset beberapa meter dari lokasi asli.
Hanya saja, proposal ini disambut penolakan dari raksasa teknologi seperti Ape, Google, dan Samsung.
Melalui lembaga India Celluler & Elecktronics Association (ICEA), perusahaan tersebut menilai aturan ini tidak memiliki preseden di negara mana pun.
Mereka sepakat, aturan inj menjadi celah yang berbahaya bagi keamanan privasi pengguna.
ICEA memperingatkan adanya resiko hukum terkait pelanggaran privasi, hingga ancaman bagi jurnalis, hakim, eksekusi perusahaan, dan personel militer.
Proposal ini juga melarang produsen ponsel untuk mengaktifkan pop-up metika operator mengakses jaringan lokasi pengguna.
Menurut COAI, pop-up tersebut membuat target menjadi sadar dirinya tengah dipantau.
Permintaan ini kembali ditolak oleh produsen ponsel karena dianggap mengabaikan gak dasar pengguna.
Pemerintah India dijadwalkan akan menggelar pertemuan dengan para eksekutif vendor ponsel pada pekan ini, hanya saja agenda tersebut ditunda tanpa alasan yang jelas.
Jika aturan ini diberlakukan, India akan menjadi salah satu negara dengan kontrol lokasi digital paling ketat di dunia. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama