Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Karyawan Bank Terancam PHK Massal, AI Dorong Produktivitas Hingga 50 Persen di Masa Depan

M Robit Bilhaq • Jumat, 12 Desember 2025 | 23:15 WIB
Akibat AI, Karyawan Bank di Amerika Serikat terancam di PHK
Akibat AI, Karyawan Bank di Amerika Serikat terancam di PHK

RADARTUBAN – Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di sektor perbankan diprediksi tidak akan mereda dalam waktu dekat.

Bahkan, ke depan, ancaman kehilangan pekerjaan bagi karyawan bank diperkirakan akan semakin nyata seiring pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Beberapa institusi perbankan besar di Amerika Serikat, seperti JPMorgan Chase dan Wells Fargo, telah mengungkapkan pandangannya terkait implementasi AI.

Mereka menyatakan bahwa AI akan mendorong produktivitas secara signifikan, namun di sisi lain juga berpotensi mengurangi jumlah tenaga kerja.

Baca Juga: Badai PHK Mengguncang Singapura: 19.800 Pekerjaan Hilang, 7 Industri Terpuruk

Produktivitas Naik Drastis, Pekerjaan Terbatas

Marianne Lake, Kepala Komunitas dan Konsumen Perbankan di JPMorgan Chase, menjelaskan dalam konferensi layanan keuangan Goldman Sachs bahwa produktivitas bank meningkat dari 3% menjadi 6% sejak penggunaan AI.

Lebih lanjut, spesialis operasional diperkirakan dapat meningkatkan efisiensi hingga 40–50%. Lake menegaskan, peningkatan produktivitas ini berarti beberapa posisi pekerjaan mungkin akan terdampak.

“Produktivitas yang lebih tinggi pada dasarnya akan mengurangi kebutuhan tenaga manusia di area tertentu,” ujarnya.

Baca Juga: Square Enix Lalukan Restrukturisasi Global, 140 Karyawan di Eropa Terancam PHK

AI, Teknologi Paling Transformasional Sejak Internet

AI kini dianggap sebagai revolusi teknologi terbesar sejak era internet. Keberadaan AI telah menarik investasi triliunan dolar dan mendorong lonjakan nilai saham, namun di sisi lain menimbulkan sejumlah tantangan, mulai dari kelangkaan chip memori, peningkatan pengawasan regulasi, hingga kekhawatiran hilangnya lapangan kerja.

Charlie Scharf, CEO Wells Fargo, menyatakan meskipun perusahaannya belum memangkas karyawan, AI memungkinkan mereka menyelesaikan volume pekerjaan lebih besar.

Scharf menekankan, AI tidak sepenuhnya menggantikan manusia, melainkan membuka peluang untuk menyelesaikan tugas dengan cara berbeda.

“Ada area lain yang bisa kami optimalkan, sehingga hasil lebih maksimal dengan jumlah karyawan lebih sedikit,” jelasnya.

Tren Otomatisasi yang Terus Berlanjut

Bill Demchak, CEO PNC Financial, menambahkan bahwa selama sepuluh tahun terakhir jumlah karyawan di perusahaannya relatif stagnan meski skala bank meningkat drastis.

Demchak menilai otomatisasi dan optimasi cabang telah menjadi kunci, dan AI diprediksi akan menjadi akselerator dalam pengelolaan tenaga kerja.

“Tren ini akan terus berlanjut, dan AI kemungkinan mempercepat proses otomatisasi yang sudah berjalan bertahun-tahun,” ujarnya.

Sementara itu, Bank of America mengalokasikan miliaran dolar AS untuk berinvestasi di berbagai teknologi, termasuk AI.

Tujuannya adalah meningkatkan produktivitas karyawan dan mendorong pendapatan lebih tinggi.

CTO perusahaan menegaskan investasi ini menjadi bagian strategi jangka panjang untuk menghadapi era digital.

Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun AI menawarkan efisiensi dan produktivitas, karyawan bank harus bersiap menghadapi tantangan baru di dunia kerja yang semakin terdigitalisasi. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#AI #kecerdasan buatan #Amerika Serikat #pemutusan hubungan kerja #bank #phk #sektor perbankan