Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Viral Kabar Vaksin Dapat Menyebabkan Autisme, Berikut Penjelasan Dari WHO

M Robit Bilhaq • Minggu, 14 Desember 2025 | 20:35 WIB
Ilustrasi vaksin.
Ilustrasi vaksin.

RADARTUBAN - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan pernyataan tegas sekali lagi terkait dengan keamanan vaksin, WHO mengonfirmasi bahwa vaksin tidak dapat menyebabkan autisme.

Pengumuman ini disampaikan setelah lembaga tersebut merilis hasil analisis terbaru yang dilaksanakan oleh Komite Penasihat Global untuk Keamanan Vaksin (Global Advisory Committee on Vaccine Safety).

Analisis yang diterbitkan tersebut secara mutlak menegaskan bahwa adanya korelasi sebab-akibat antara pemberian vaksin dengan kondisi autisme tidak ditemukan.

Kesimpulan ini secara langsung membantah narasi anti-vaksin yang saat ini terlihat kembali menguat di berbagai kalangan.

Kepala WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menjelaskan bahwa komite tersebut telah meninjau 31 penelitian yang dilakukan di berbagai negara selama rentang waktu 15 tahun.

Tinjauan tersebut mencakup penelitian yang berfokus pada vaksin yang mengandung thiomersal, yaitu zat pengawet yang digunakan untuk mencegah kontaminasi bakteri dan jamur, serta aluminium adjuvan.

Tedros dalam konferensi pers di Jenewa pada Jumat (12/12) menyatakan bahwa WHO telah menerbitkan analisis baru yang menunjukkan, berdasarkan seluruh bukti yang tersedia, tidak terdapat hubungan kausal antara vaksin dengan autisme.

Dia secara lugas menegaskan bahwa komite menyimpulkan tidak ada kaitan antara autisme dengan vaksin apapun, termasuk vaksin yang di dalamnya terkandung aluminium maupun thiomersal.

Menurut keterangan Tedros, WHO bukan pertama kali melakukan kajian yang serupa, analisis terkini ini merupakan ulasan keempat, menyusul tinjauan yang telah dilakukan sebelumnya pada tahun 2002, 2004, dan 2012.

Seluruh kajian tersebut selalu mencapai konsensus yang sama, yaitu bahwa vaksin tidak bertanggung jawab atas kondisi autisme.

Tedros menjelaskan bahwa, vaksin memang dapat menimbulkan efek samping sebagaimana produk medis pada umumnya, dan hal ini terus dipantau secara berkala oleh WHO, namun, autisme tidak termasuk salah satu efek samping dari vaksin.

WHO juga menyoroti bahwa klaim yang menghubungkan vaksin dan autisme pertama kali berakar dari sebuah studi pada tahun 1998 yang mencoba mengaitkan vaksin campak, gondongan, dan rubella (MMR) dengan autisme.

Studi tersebut kemudian ditarik kembali karena terbukti menggunakan data yang dipalsukan dan tidak pernah berhasil direplikasi oleh penelitian-penelitian ilmiah berikutnya.

Tedros prihatin terkait dengan adanya studi yang terbukti curang dan telah ditarik tersebut, dampaknya telah meluas dan gagasan keliru itu terus bertahan di tengah masyarakat.

Pernyataan dari WHO ini muncul di tengah perdebatan di Amerika Serikat, setelah Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merevisi istilah yang digunakan di situs resminya dengan narasi yang oleh sebagian pihak dinilai melemahkan posisi ilmiah mereka sebelumnya mengenai keamanan vaksin.

Langkah CDC ini menuai kecaman dari para ilmuwan dan tokoh kesehatan masyarakat, termasuk dari internal CDC sendiri, yang selama bertahun-tahun telah berupaya keras melawan informasi yang salah mengenai vaksin.

Isu ini juga kembali mencuat seiring dengan pernyataan Robert F. Kennedy Jr., seorang pejabat kesehatan AS yang dikenal sering menyuarakan retorika anti-vaksin dan klaim-klaim yang tidak akurat mengenai kaitan vaksin dan autisme.

Tedros menegaskan bahwa vaksin telah berkontribusi terhadap kesehatan global yang fakta yang tidak dapat dibantahkan.

Sebagai contoh, dalam kurun waktu 25 tahun terakhir, angka kematian anak di bawah usia lima tahun telah berkurang drastis, dari sekitar 11 juta kematian per tahun menjadi 4,8 juta.

Vaksin juga disebut sebagai salah satu faktor fundamental yang menyebabkan penurunan angka kematian yang begitu signifikan tersebut.

Tedros menyimpulkan bahwa vaksin adalah salah satu penemuan paling kuat dan revolusioner dalam sejarah peradaban manusia.

Lebih lanjut, Tedros menambahkan bahwa vaksin telah berhasil menyelamatkan jutaan nyawa dari sekitar 30 jenis penyakit, termasuk campak, kanker serviks, malaria, dan penyakit menular lainnya. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#WHO #autisme #organisasi #vaksin