Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Berikut Daftar Negara Yang Paling Tidak Berbahagia Di Dunia, Apakah Indonesia Termasuk?

M Robit Bilhaq • Minggu, 14 Desember 2025 | 16:30 WIB
Ilustrasi negara yang kurang bahagia.
Ilustrasi negara yang kurang bahagia.

RADARTUBAN - Tingkat kebahagiaan suatu populasi dapat diukur melalui metrik yang konsisten.

Setiap tahun, World Happiness Report menyajikan pemetaan komprehensif mengenai tingkat kesejahteraan masyarakat global berdasarkan serangkaian indikator kunci.

Indikator tersebut mencakup dimensi penting seperti dukungan sosial, stabilitas perekonomian, harapan hidup, tingkat kebebasan individu, persepsi terhadap korupsi, serta kualitas hidup secara menyeluruh.

Negara-negara yang menduduki peringkat teratas kerap mendapat sorotan positif karena dinilai berhasil membangun sistem sosial yang solid dan mencapai standar hidup yang tinggi.

Di sisi lain, daftar negara yang berada di posisi terbawah justru menggambarkan wilayah-wilayah dengan tantangan kemanusiaan paling berat.

Negara-negara dengan skor kebahagiaan terendah umumnya menghadapi kombinasi permasalahan kompleks, seperti konflik berkepanjangan, ketidakstabilan ekonomi, krisis politik akut, lemahnya institusi pemerintahan, hingga keterbatasan akses terhadap layanan dasar.

Baca Juga: Gaji PNS 2026 Masih Digodok, MenPANRB Tegaskan Kenaikan Bergantung pada Kemampuan Fiskal Negara

Kondisi tersebut menjelaskan mengapa kesenjangan tingkat kebahagiaan antarnegara di dunia masih sangat mencolok hingga saat ini.

Berdasarkan laporan terbaru, dilansir dari India Times pada Jumat (12/12), berikut adalah 10 negara yang dinilai paling tidak bahagia di dunia:

1. Afghanistan

Afghanistan sekali lagi menempati peringkat paling bawah sebagai negara dengan tingkat kebahagiaan terendah di dunia.

Kondisi yang terjadi didominasi oleh ketidakstabilan politik yang sudah berlangsung lama, pembatasan kebebasan yang ketat.

Terutama yang ditujukan kepada perempuan dan anak perempuan—serta tingginya angka pengangguran yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Banyak wilayah di negara tersebut terus menghadapi krisis pangan, keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan, dan layanan publik yang mengalami penurunan kualitas.

2. Sierra Leone

Meskipun telah mencatatkan kemajuan signifikan sejak berakhirnya perang saudara, Sierra Leone masih bergulat dengan masalah kemiskinan yang meluas dan tingkat pengangguran yang tinggi.

Sistem kesehatan publik di negara ini tergolong sangat rapuh, dan banyak komunitas lokal belum mendapatkan akses yang memadai terhadap kebutuhan dasar seperti air bersih, listrik, dan layanan medis.

Infrastruktur yang masih lemah dan korupsi sistemik juga turut berkontribusi dalam menekan tingkat kesejahteraan masyarakat.

3. Lebanon

Lebanon saat ini sedang melalui salah satu krisis ekonomi paling parah dalam sejarah modernnya.

Kualitas hidup masyarakatnya menurun drastis akibat hiperinflasi, nilai mata uang yang hampir tidak berharga, kebuntuan politik yang berkepanjangan, serta kelangkaan berbagai kebutuhan penting seperti obat-obatan, listrik, dan bahan bakar.

Layanan dasar yang disediakan pemerintah menjadi sangat tidak stabil, sementara tingkat kepercayaan publik terhadap negara terus menurun tajam.

4. Malawi

Malawi masih diklasifikasikan sebagai salah satu negara termiskin di dunia, dengan sebagian besar penduduknya bergantung pada sektor pertanian untuk penghidupan.

Kekeringan, pola hujan yang tidak menentu, serta guncangan yang disebabkan oleh perubahan iklim sering kali mengganggu pasokan pangan.

Keterbatasan akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, dan kesempatan kerja menjadikan tingkat kepuasan hidup masyarakatnya tetap rendah.

5. Zimbabwe

Zimbabwe masih menghadapi tantangan berupa inflasi yang tinggi, ketidakstabilan nilai mata uang, dan meluasnya pengangguran.

Kelangkaan barang-barang kebutuhan pokok, mulai dari obat-obatan hingga barang sehari-hari, telah menjadi permasalahan rutin.

Ketegangan politik, rendahnya kepercayaan masyarakat pada institusi negara, dan minimnya layanan publik yang dapat diandalkan semakin memperburuk kondisi sosial di negara tersebut.

6. Botswana

Meskipun sering dianggap lebih stabil dibandingkan dengan negara-negara tetangganya di Afrika, Botswana tetap masuk dalam daftar negara paling tidak bahagia.

Salah satu faktor utamanya adalah melebarnya ketimpangan ekonomi.

Meskipun industri berlian telah mendorong pertumbuhan ekonomi yang substansial, manfaatnya tidak terdistribusi secara merata.

Pengangguran di kalangan pemuda berada pada tingkat yang tinggi, sementara wilayah pedesaan menghadapi keterbatasan peluang yang signifikan.

7. Republik Demokratik Kongo

Peringkat rendah Republik Demokratik Kongo disebabkan oleh kombinasi konflik yang berkepanjangan, instabilitas politik, dan kemiskinan yang masif.

Jutaan penduduk mengalami status pengungsian internal, sementara banyak daerah sangat kekurangan infrastruktur dasar seperti jalan, listrik, dan air bersih.

Ironisnya, negara ini kaya akan sumber daya alam, namun masalah korupsi dan tata kelola yang lemah menghambat pemerataan manfaat ekonomi yang seharusnya diperoleh.

8. Yaman

Konflik yang telah berlangsung lama telah menyeret Yaman ke salah satu krisis kemanusiaan terburuk yang pernah ada di dunia.

Sebagian besar populasi menghadapi kelaparan akut, berulang kali terjadi wabah penyakit, dan infrastruktur vital negara telah runtuh.

Akses terhadap layanan kesehatan sangat terbatas, dan banyak keluarga terpaksa mengungsi dari tempat tinggal mereka.

Di sejumlah wilayah, ketersediaan air bersih dan listrik bahkan nyaris tidak ada.

9. Komoro

Negara kepulauan kecil ini menghadapi tantangan berupa keterbatasan peluang ekonomi, ketidakstabilan politik, serta ketergantungan yang tinggi pada barang-barang impor.

Tingkat pengangguran relatif tinggi, infrastruktur tergolong lemah, dan layanan kesehatan belum terdistribusi secara merata.

Posisi geografisnya yang terisolasi juga menyebabkan harga barang menjadi mahal, yang pada akhirnya menekan daya beli masyarakat.

10. Lesotho

Lesotho menghadapi kemiskinan yang bersifat kronis, musim dingin yang ekstrem, serta minimnya ketersediaan lapangan kerja.

Negara ini juga tercatat memiliki salah satu tingkat penyebaran HIV/AIDS tertinggi di dunia.

Banyak keluarga yang kehidupannya sangat bergantung pada kiriman uang (remitansi) dari para pekerja migran yang bekerja di Afrika Selatan, membuat ekonomi rumah tangga menjadi rentan.

Akses terhadap layanan kesehatan dan pendidikan masih belum merata, terutama di wilayah pegunungan yang terpencil. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#kongo #afghanistan #lebanon #sierra leone #Lesotho #zimbabwe #Negara #botswana #malawi #yaman #bahagia